PILIH TUNE-IN APA PUSHING??

Wah wah, banyak pertanyaan pula datang ke gue soal pilih PDA bagusan yang mana? Waduh, gue enggak mau berlagak sok tahu, karena memang gue juga sama; masih awam soal teknologi PDA. Tapi enggak apa-apa, gue sekarang paparkan berdasarkan pengalaman saja. Enggak salah kan? Apalagi banyak sekali produk PDA (personal digital asistant) yang bisa aja elo gebet. Tapi seperti apa? Nah pertanyaan ini enggak gampang dijawab dan enggak semudah disarankan secara sepihak. Sama seperti pilih komputer, the need based itu wajib. Tapi seperti apa?

 

Foto oleh Artha & model Alyne

Okey Sob, jawabnya enggak segampang elu pilih ponsel. Ya, ponsel sudah beragam varian, tinggal pilih berdasarkan bujet. Enggak usah pusing lagi, pilih ponsel seminimalnya ada Bluetooth, GPRS kelas 10, sms > 160 karakter, bisa 3G pula. Semua bermain di rentang harga yang cukup lebar, mulai Rp 1 jutaan hingga 10 jutaaan. Jadi, soal ponsel enaknya dibahas nanti saja. Atau enggak perlu dibahas? :D Nah beda banget kalau sudah berpindah ke PDA. PDA apa yang pantas kamu miliki? Intinya elo harus tune-in alias benar-benar pas dengan ‘gaya pemakaian’ terhadap kebutuhan PDA. Sangat disayangkan apabila pilihan jatuhnya bikin pusiiiing. Mubazir kan? Begini deh gue paparin.

Choice 1: PDA phone or not?

Bagi gue, PDA phone is must. Tapi belum tentu kan buat kalian. Kalau akhirnya elo hanya butuhin sebagai trully asistent, dalam artian dipakai untuk mencatat, merekam, juke box, internet hot spot, data storage, hingga guidance via GPS (kalau memang dilengkapi) dan semua berfungsi sebagai PC replacement for mobile, yup elo enggak salah pilih cukup PDA, bukan PDA Phone. Kapabilitas PDA non telepon biasanya lebih bagus dan –yang jelas- lebih bandel karena secara sistem tidak terganggu distorsi gelombang GSM sehingga konsumsi power dan kecepatan sistem terdongkrak efisien.

Nah itu mutlak bisa benar kalau kita tengok tren PDA era-era before 2007. Sekarang, posisi PDA malah jadi makin bergeser ke ‘smart multimedia storage’. Sudah enggak ada bedanya lagi, antara PDA HP rx5700 dengan Garmin Nüvi680, Archos 704 WiFi, Creative VISION W, bahkan iPod Touch! Tipis, Jack! Kalau sering buat tour guidance, ya pilih Garmin Nüvi. Buat nge-net via WiFi, ya Archos 704 yang harddisknya sampai 80 gigs! Kalau buat simpen foto, ya pilih Creative Vision W karena ada slot memory CF-nya! Atau totally simpen-simpen lagu, ya iPod Touch! Semua fungsinya sama kan? Assist elo ketika mobile? Hebatnya, semua alat itu bisa kok buat catat-mencatat, PDF viewer (kecuali Garmin), voice recorder hingga reminder via fitur agenda.

 

Sumber foto: farm1.static.flickr.com

Makanya, enggak beralasan bagi gue (ingat ya menurut gue) pilih PDA ya wajib sudah terkoneksi jaringan telepon, entah itu GSM atau CDMA. Fungsi itu baru benar-benar assist elo ketika mobile, khususnya komunikasi via telepon sering kali jadi tulang punggung kerjaan. Mulai dari simpan phonebook beribu-ribu, SMS beribu-ribu, call history beribu-ribu hingga ‘full mobile internet’ via GPRS, EDGE, UMTS or HSDPA. So, you go with me for choosing PDA Phone? :)

Choice 2: Smartphone or Pocket PC?

Nah, ini yang penting. Pilih smartphone apa pocket PC? Bagi istilah awam; ko-produknya smartphone adalah PDA. Khususnya yang membedakan antara PDA bersistem operasi (OS) Windows dengan yang tidak (Palm OS, Blackberry, Symbian bahkan Android). Ah itu sebetulnya istilah doang, apalagi istilah smartphone nyata-nyata diperkenalkan oleh Microsoft sebagai pembeda dengan Pocket PC dimana smartphone tanpa sistem input touch screen dan fitur office-nya hanya berfungsi sebagai viewer. Untuk itu, gue lebih enak memilah dua istilah ini dengan irisan sebagai berikut yang memang berdasarkan sistem operasi yang dipakai.

- Smartphone –> PDA phone ber-OS non Windows Mobile (Symbian, Palm, Blackberry & [soon] Android) dan atau yang ber-OS Windows Mobile versi Smartphone (ciri khasnya: no touch screen dan Office viewer)

 

Sumber foto: www.gadgetmania.ro

- Pocket PC –> PDA phone ber-OS Windows Mobile/WM (mulai WM6, WM5, WM2003, dan seterusnya).

 

Sumber foto: www.mobilissimo.ro


Kenapa pemilahan ini berdasarkan pakai tidaknya OS WM? Jawabnya simpel; WM itu ribet! Penyakitnya seperti OS PC (entah Windows 98, 2000, XP bahkan Vista) yaitu suka crash, hang dan rawan virus. Belum lagi power consumption WM tergolong parah dibanding smartphone (baca: PDA phone non Windows based). Makanya tidak heran, smartphone dijadikan pelarian. Dan enggak heran pula, Steve Ballmer (CEO Microsoft) suangat panik dengan kehadiran Android dan makin panik pula dengan kehadiran GPhone. Ya, gue enggak sabar berpindah ke telepon ber-OS ‘saudara’ dari Symbian yang bersifat open source ini!

Tapi kenapa gue tetap pakai Pocket PC? Jawabnya simpel, gue orang yang ‘dikorbankan’ menjadi PC Slave. Tiap detik tiap waktu, OS Windowslah jadi andalan. Jadi mau tidak mau, konektivitas data yang tepat untuk berfungsi sebagai PC replacement ya pilih Pocket PC. Sinkronisasi reminder, address book, notes, MS Word, Excel hingga back up data nyuambung banget antara Pocket PC dengan OS Windows PC. Lantas bagaimana dengan Smartphone Windows? Kepraktisan touch screen gue akui tidak bisa disingkirkan. Belum lagi, fungsi input di Office seringkali berpindah ke PDA! So, Pocket PC adalah yang pas bagi gue, khususnya buat kerjaan yang kaitannya dengan tulis-menulis, bikin janji ini-itu, rekam ini itu, foto ini-itu, etc etc.

Jadi yang pas buat kamu? Ayo bikin listing berikut ini:

- Enggak mau sering charge batere (maksimalnya sehari sekali), enggak mau ribet soal power supply (additional external batere alias cadangan, tiap saat siap charger termasuk mobile charger spek cigarette lighter plug), enggak mau ukuran besar-besar, emoh install-install program, anti soal nge-hang/crash/virus, cuman buat catat-catat tanpa ada kaitan ke laptop/desktop PC, cuman buat Office viewer (jarang kepaksa kerja via PDA), e-mailing tanpa ada sangkut pautnya dengan Outlook PC di laptop/desktop, dan sebal dengan all Microsoft things => Pilih Smartphone

- Mau rajin-rajin nge-charge batere (dan setiap saat bawa mobile charger atau syukur batere cadangan), benar-benar PC Slave, benar-benar butuh sinkronisasi data ‘all Microsoft things’ (Office termasuk Outlook, reminder, address book), sering terpaksa butuh Office disaat jauh dari laptop/desktop PC, suka install-install program dan game (apalagi tergiur oleh banyaknya ragam jenisnya), dan tentunya you don’t hate too much Microsoft things => Pilih Pocket PC.

Kalau dikerucutkan, mana yang dipilih sistem operasi (OS) yang pas buat elu?

- WM Pocket PC => Benar-benar Windows banget, bedanya dibatasi oleh sebuah kemampuan prosesor dan memory yang pelit.

- WM Smartphone => ‘A Symbian wannabe’ from Microsoft, cuman input hanya lewat keypad (syukur ada bertombol QWERTY, tanpa touchscreen) dan tentunya Office Viewer doang. Mungkin ini dijabani biar lebih irit batere… :P

- Symbian => Soal kepraktisan, OS bertulang bahasa Java script ini jagonya. Sayangnya, fitur Office-nya masih kalah dengan produknya Windows Mobile. Kalau enggak butuh fitur Office, saran PDA Symbian cukup aworthed dimiliki (contohnya Nokia E61i atau E90 atau Sony Ericsson P1i atau malah M600) .

- Palm => Kalau versi desktop atau laptop, anti Microsoft dijabani dengan Mac-maniac. Nah kalau PDA, kalau tidak WM ya Palm :P Bisa main-main install cuman populasi source program additionalnya enggak sebanyak buat WM. Hebatnya, Palm jauh ramah batere ketimbang WM! Sayang, Treo yang notabene flagshipnya untuk Palm OS ngelacur di Treo750 karena pakai WM5!

- Blackberry => Another powerfull OS, apalagi sistemnya terkoneksi server push mail mumpuni. Terus terang, gue masih gelap soal ini. Denger-denger sih, antara Xplor, Indosat dan Telkomsel berkoar-koar dalam kecepatan aksesnya via rujukan server yang diikuti. Entah lewat Verizon, T-Mobile, Cingular, Sprint, Nextel, AT&T atau apalah namanya. So, CMIIW ya.. hehehe

- Android => Haha, gue tunggu-tunggu nih… Lewat konsep GPhone ketika telepon enggak perlu pencet nomor tapi id google account lo aja! Sifatnya kayak Linux, open source banget dan basiknya kalau tidak salah pakai Java Script juga, seperti Symbian. Lagi-lagi, CMIIW yaa…. hehehe

Choice 3: QWERTY Pad

Input data PDA lewat tombol QWERTY adalah penting jadi pertimbangan. Ini disesuaikan dengan ‘kebiasaan’ elo untuk tune-in dalam pemakaiannya. Ada dua jenis orang yang mengmahfumi soal keberadaan tombol QWERTY, yaitu pihak pertama yang suka dengan one hand operation alias cukuplah satu tangan yang bekerja dan pihak kedua yang rela dengan two hand operation alias mau repot dengan dua tangan untuk operasiin PDA! Kira-kira gambaran tipikal dua pihak ini adalah sebagai berikut:

 

Sumber foto: www.ce.cn

- One hand operation: Totally mobile, tidak rela tas tenteng ditaruh di jalan lalu utak-atik PDA, tidak rela tangan satunya lepas dari rokok/buku/remasan tangan pacar :P , tidak punya sopir kalau naik mobil, ya mungkin juga jarang naik taksi, acara makan enggak rela diganggu dengan SMS/e-mail masuk, sebal pakai stylus (belum lagi ribet kalau hilang), dan mungkin punya telepon lain dan dipegang di tangan lainnya.

Sumber foto: hpc.ru

 

 

 

 

 

- Two hand operation: Wait, gue susah gambarin tipikal pihak ini. Pakai mobil pasti bersopir juga belum tentu, rela taruh tas atau sesuatu yang dipegang di tangan lainnya hanya untuk utak-atik ya belum tentu, atau jangan-jangan ‘show off’ pakai gadget mumpuni? :P Asli, gue salah satu pembenci PDA jenis ini, seberapapun canggihnya, seberapapun mahalnya. Ini dia yang bikin gue heran, kenapa Nokia Komunikator laku keras di Indonesia! Kenapa enggak sekalian beli Flybook yang sudah insert GSM simcard? Hehehe…. Okey lah, gue enggak nyalahin juga dengan PDA seperti ini. Buktinya Dopod 838 Pro juga laku, Nokia 9300 ya kayak kacang goreng, iPaQ rw6828 cukup lucu, O2 XDA Zinc mayan bergengsi. Wah Dopod U1000? Hehehe, enggak deh….

 

Jadi mana yang dipilih?

  1. Only QWERTY touch screen

PDA ini umumnya lebih murah dibanding jenis PDA yang ditambah additional pad (baik QWERTY pad maupun key phone pad). Ragam produknya lebih banyak dan rentang harganya juga lebih luas sehingga elu banyak pilihan. Ingat, pilihan nomor 1 ini harus diikuti kerelaan elu dengan keahlian bermain stylus, mau pilih cukup QWERTY atau justru pilih fitur input block recognizer, decuma onspot, letter recognizer atau transcriber. Mau pakai cara one hand operation? Piara deh kuku jempol buat pengganti stylus, hehehe! Itu enggak perlu semisal saja sistem inputnya sudah mengikuti Mac OS di iPhone; tidak perlu stylus, tidak perlu benda keras, cukup sentuhan jari saja dan touch screennya dijabani dengan cara unik seperti kalau elu pakai laptop Mac!

 

Sumber foto: blogs.zdnet.com

  1. Only QWERTY touch screen plus key pad

Bersyukur, sekarang kelemahan PDA disiasati dengan tombol utama bergaya key pad seperti ponsel. Gue enggak hafal produknya mana, ciri khasnya bisa dalam bentuk ‘main pad’ seperti ponsel atau additional pad dengan desain hidden slidding.

 

Sumber foto: www.tecnogadgets.com

  1. QWERTY pad sebagai prime button

Ini dia favorit gue, tombol QWERTY dijadikan main pad. Contohnya makin kesini makin banyak, mulai varian Treo, HP hw6500 series (gue gebet hw6515 hehe) atau 6900 series (ya hw6965 itu lho..) atau malah terbaru 910 yang sayangnya belum masuk, Sony Ericsson P1i dan M600, Nokia E61i, Samsung i780, Motorola MotoQ series, varian Blackberry dan lain-lain. Lantas bagaimana cara memilihnya kalau didasarkan opsi nomor 3 ini? Cari tombol yang menurut elu enak dipencet, tombol enggak kegedean atau kekecilan. Terus, pilih mana yang tombol khusus keypad telepon (biasanya dibedain warnanya) yang pas buat elu, di bagian kiri atau kanan? Terus, pilih mana yang enak dengan jangkauan jempol kamu yang paling pas kalau cara one hand operation dipilih. Terus… Wah intinya, PDA yang paling praktis menurut gue yang yang opsi ini! Titik.

Sumber foto: www.tech2.com

  1. QWERTY pad sebagai additional button

Ada banyak cara menambah kepraktisan tombol QWERTY dengan cara memposisikannya sebagai additional button. Seperti O2 XDA Zinc, Dopod UC eh U1000 bahkan Nokia Komunikatro (entah 9300, 9500 bahkan E90). Wah, bagi gue, tetap saja enggak praktis. Harus buka lid atau slide padnya, baru ditekan-tekan dengan dua tangan! Duh… duh… duh….

 

Sumber foto: www.navigadget.com

Choice 4: Additional Features

Kelengkapan fitur PDA linier dengan harga yang harus kamu tebus. Tapi pintar-pintarlah mengkomparasi harga itu dengan ukuran prosesor yang dipakai, memory internal (baik ROM maupun RAM), slot memory card, koneksi Bluetooth, network yang dimiliki, transfer data wireless (entah WiFi atau broadband sekelas UMTS atau HSDPA), ukuran layar (woi, hw6515 berukuran 240×240 piksel, susah banget cari game yang pas!), ukuran batere (berikut klaim durasi pemakaian), beratnya, ukurannya, dan lain-lain. Intinya, elu harus jeli mencermati spek yang dimiliki. Kalau terpaksa beli seken demi fitur yang mumpuni, kenapa tidak? Kalau hw6515 Rp 2-3 jutaan (seken) masih mulus dan bisa GPS (global positioning system) pula, kenapa tidak dibeli? :P

Choice 5: (Lagi-lagi) Testimonial

Sama seperti pilih laptop, pelajari testimonial di beberapa situs dan forum-forum online. Tanyakan, dimana kelemahan produk yang bakal elu incar. Syukur, elu dapat data atau info soal komparasi produk-produk tersebut. Ini biar memperkaya info lo soal PDA yang pengin dipilih. Cukup dulu, mungkin akan gue tambah-tambahin infonya nanti. Maaf, gue sudah ngantuk berat. Busyet, dah jam 12 malam aja nih…Untuk referensi lain, elu bisa klik www.smartdevicecentral.com, www.tekscientia.com, www.pctoday.com.
CMIIW & Daaaaaah……

 

 MITSUBISHI EVOLUTION X

            Isyu soal kehadiran Evo X sudah tersebar sejak 2004. Tapi semua penggila Evo masihlah gelap kapan mobil ini bakal dijual resmi. Sewaktu gue nongkrong akhir Juli 2007 di bengkel UFO1, Henry kasih bocoran kalau versi Evo X MR (versi balapnya atawa yang limited) sudah resmi keluar. Bocoran ini diakuinya dari pembesar HKS di Jepang. Sayang, rekan gue dari OTOMOTIF, om Bulu, tidak menuliskan detail price list resmi Evo X MR untuk pasar JDM. Di tabloid OTOMOTIF No. 27 terbitan 5 November hanya menulis harga Evo X (standard??) dilepas 2,9-3,75 yen atau dikisar Rp. 250-300 juta! Well well, benar tidaknya, ayok deh simak tulisan gue yang pernah terbit di majalah MOTOR edisi 312 terbitan 1-14 September 2007.

NOT JUST ROMAN X

Hanya 4.000 unit dengan trisula varian; RS 5M/T, GSR TC-SST dan 5M/T

(Foto: www.motorauthority.com)

            Bukan sekadar huruf romawi X saja, debut Mitsubishi Evolution gres ini memang patut menyandang initial X yang mengidiomkan sosok ekstrem. Sejak debut konsepnya di Tokyo Motor Show 2005, publik berdecak kagum sekaligus menanggalkan tanda tanya besar. Jawaban sebuah sosok Prototype-X di North American International Auto Show (NAIAS) Januari silam masih belum juga menuntaskan kegamangan Evo-enthusiast!

            Tenang, MOTOR berusaha membedahnya. Menurut info yang kami terima, Evo X siap digebet Oktober nanti di ajang Tokyo Motor Show! Harga masih buram, ada yang mengestimasi 35.924 USD atau malah 42.000 Euro (belum plus-plus pajak sini, lho!). Toh mirip varian Evo MR sebelumnya. Bedanya, keluar hanya 4.000 unit dalam trisula varian; GSR TC-SST/semimatik (2.900 unit), GSR 5M/T (1.000 unit) dan RS 5M/T (100 unit)!.

            Seperti apa Evo X? Secara desain sepintas mengulang sukses kegarangan hidung hiu Galant generasi 8. Indikasi ini menguatkan kalau Evo X sudah menanggalkan platform CT9A (Evo VII, VIII dan IX), diganti dengan versi gres CZ4A. Dimensi pun berubah. Dengan ukuran (p x l x t) 4.495 x 1.810 x 1.480 mm, CZ4A ini lebih pendek 39,5 mm, lebih lebar 39,5 mm dan lebih tinggi 29,5 mm dengan wheelbase 2.640 mm.

             ‘The legend’ 4G63T jadi kenangan sudah. Penggantinya adalah 4B11 MIVEC 4 silinder segaris DOHC 16 katup. Mesin hasil aliansi bareng DaimlerChrysler dan Hyundai ini juga dijejali turbo sehingga daya estimasinya 286 dk. Itu dibarengi dengan transmisi canggih mirip DSG (Direct Shift Gearbox) Audi di varian matiknya yaitu Twin Clutch Sport Shift Transmission (TC-SST). Detailnya bisa elu lihat di ‘bocoran’ spek halaman ini!

ToM! (dari berbagai sumber)

SENJATA KAKI-KAKI

            Selain TC-SST yang memakai fitur paddle shift dengan sistem kopling independen; satu untuk gigi 1/3/5 dan dua untuk gigi 2/4/6, Evo X hadir dengan fitur canggih S-AWC. Apa itu? Kepanjangan dari Super All Wheel Control adalah racikan senjata mumpun untuk handling kaki-kaki. Pada prinsipnya, S-AWC mengkolaborasikan kendali active center differential, active yaw control dan active stability control sehingga torsi dan pengereman pada kaki dapat didistribusikan secara ‘nyaris’ sempurna.

THE NEED BASED!

Gue jujur enggak terlalu mendalami dunia produk informasi secara detail, termasuk pasaran laptop yang beredar. Tapi yang lebih awam dibanding gue malah termasuk banyak. Banyak pertanyaan yang terlontar untuk pilih seperti apa laptop yang dimaui. Atau malah baikan pakai laptop atau desktop. Nah soal terakhir ini coba gue paparkan berdasarkan pengamatan sendiri sebagai berikut. (Hehe, maaf kalau salah. Ini hanya persepsi spontan gue saja).

Bagusan mana antara laptop apa desktop? Jawabnya tergantung kebutuhan elo. Simpel kan? Memang pergeseran harga laptop PC (ber-OS Windows makin turun. Harganya bisa gue bilang tinggal seuprit lagi deh bedanya dengan harga desktop. Lantas mending beli laptop? Jawabnya ya belum tentu! Buat yang demen utak-atik alias oprek-oprek jeroan komputer, laptop tentu berposisi lemah dibanding dekstop.

Lantas bagusan mana antara Mac OS dengan PC/Windows? Ya sama, jawabnya tergantung. Dipakainya lebih banyak buat apa? Kalau untuk multimedia (foto, grafis atau film) ‘mungkin’ Mac OS lebih aworthed dibanding PC. Tapi kalau benturan Mac OS lebih banyak bicara konektivitas (contohnya networking LAN di kantor, aplikasi USB hingga kompatibilitas data aplikasi) PC/Windows lebih menang.

Okey, desktop kalau sudah jadi pilihan, silakan pilihan technical requirement yang dimaui, mulai bicara kecepatan prosesor, kapasitas memory, besar hard disk, performa VGA, hingga urusan pilih monitor LCD atau CRT. Semua dikembalikan pada bujet uang yang disediakan. Kalau enggak mau repot, beli yang sudah punya stempel merek kayak HP, Lenovo, Acer, Wearness hingga B/Y/O/N (merek lokal sudah banyak untuk produk ini). Kalau mau bermain rakitan, tinggal mainkan proporsi kebutuhan hardware buat pemakaian, apakah hanya dominan untuk wordprocessing, browsing, chating, gaming, programming, multimedia editting dan lain-lain.

Yup, pilih laptop juga begitu. Hanya saja lebih rumit. Banyak pertimbangan yang jadi landasan untuk memilihnya. Tapi semua dikembalikan juga pada bujet uang yang dimiliki. Kepuasan membeli laptop bukan hanya dapat harga yang murah, tapi juga kesesuaian barang dengan apa yang elu mau.Ya, the need di sini jadi poin penting. Menurut gue, ada beberapa urutan yang perlu elu lakukan sebelum beli laptop.

  1. Uang

Betul Bos, pertama kita wajib tentuin dulu bujet duit yang elu sediain. Pastikan seberapa elu mampu untuk membeli sebuah laptop. Kalau ujung-ujungnya memimpikan suatu laptop mantap tapi duit lagi kolaps ya jangan paksain beli yang baru. Solusi barang seken atau refurbish enggak berdosa, kok! Tinggal pintarnya kita saja untuk mendapatkan barang seken yang bagus seperti apa. Biasanya sih untung-untungan kalau bicara kondisi laptop seken. Oya, kalau sudah siap beli yang baru/gress, pastikan beli pada saat nilai Rupiah terhadap Dollar sedang stabil. Itu biar elu enggak sakit hati, hehehe!

2. Jenis Keperluan

Jenis keperluan ini yang elu camkan. Jangan lantas silau dengan harganya yang murah, tiba-tiba elu kecewa dengan apa yang telah dibeli karena enggak pas dengan kebutuhan elu. Gue pilah ada 4 jenis keperluan yang biasanya jadi pegangan. Masing-masing keperluan itu masih bisa mengiris satu sama lain, yaitu:

- Keperluan taste dan gaya hidup: Pertimbangan desain dan gengsi merek bisa berposisi dominan disini. Pilihan bisa jatuh ke Sony VAIO, Fujitsu atau malah Apple MacBook/Pro. Biasanya, opsi limited edition bisa mendukung kebutuhan ini. Kalau gengsi merek ditepikan, laptop lokal sudah berani bermain fashion casing yang menarik, kayak Zyrex, B/Y/O/N atau Ion. Malah di antara mereka ‘meniru-niru’ desain minimalis MacBook! Biasanya laptop gaya untuk PC formatnya UMPC (Ultra Mobile Portable Computer), PC Tablet, atau laptop spek ultra light!

(foto: www.zdnet.co.uk)

- Keperluan kerja: Paling gampang berpatok pada keperluan ini. Kalau banyakan buat ngetik, pilih yang murah sudah cukup dimana spek teknisnya enggak ‘berat-berat’. Buat editing foto, biasanya menyasar besar memory dan harddisk. Sama juga kalau elu banyak buat online internet apalagi bermain limewiring atau demen download atau upload file seperti ‘demam Youtube’ (*.flv). Buat editing grafis atau film, MacBook atau MacBook Pro pasti jadi pilihan apalagi kalau didukung peer to peer di network dengan produk yang sama. Untuk gaming? Nah ini yang cukup berat, yang pasti PC based, bukan Mac OS. Butuh prosesor, memory, hard disk gede dan tentu bukan VGA shared! Untuk server? Wah… jangan pilih pakai laptop deh! :P

 

(foto: www.notebooks.com)

- Keperluan mobilitas: Elu sebagai orang yang cukup mobile? Suka pindah-pindah atau bosenan duduk di suatu pojokan ruangan. Ya tentu pililh laptop, desktop sudah pasti dicoret dari pilihan. Lantas pertanyaannya:

(foto: www.rentacomputer.com)

- Mobilitasnya seperti apa?

- Membutuhkan konektivitas wireless?

- Tengok ketersediaan hardwarenya, apakah butuh Bluetooth, Firewire, slot USB, PCMCIA, slot memory card reader atau malah cari yang sudah built in GSM Card?

- Seberapa sering elu pakai alat-alat yang pakai konektivitas jenis itu?

- Karakter elu pakai laptop seperti apa?

- Seringkah dipakai outdoor?

- Seringkah dipangku, jarang dipakai untuk ditaruh di meja?

Kalau itu sudah bisa dijawab. Silakan ceklist soal ketersediaan dan spesifikasi laptop yang elu maui;

- Ada tidaknya Bluetooth (di laptop PC, penambahan fitur ini menambah harga sangat banyak, bandingkan apabila elu cukup pakai Bluetooth dongle/USB yang berkisar Rp. 50-150 ribu). Makanya, kembali ditanyakan, penting enggak Bluetooth itu elu pakai?

- Berapa banyak jumlah slot USB. Syukur juga dipertimbangkan ada tidaknya slot koneksi Firewire (umumnya data foto), S-Video, PS2 dan lain-lain. Makin lengkap, tentu harganya makin mahal. Kecuali ada perencanaan untuk menambah peranti sebuah docking.

- Berapa banyak jumlah slot PCMCIA dan posisinya ada di kiri/kanan (kaitan soal spot panas apabila elu pakai modem PCMCIA, tangan mana yang sering menempel). Ini menangnya laptop PC, laptop Apple (baik MacBook atau yang Pro) tidak ada koneksi seperti ini!

- Sudahkah siap untuk melakukan networking via LAN atau WiFi? Untungnya, prosesor Intel Core Duo sudah built in wireless LAN. Menurut gue, jaman sekarang fitur ini wajib. Even itu elo beli seken!

- Bicara panas, cermati parahkah panas yang ditimbulkan, dan ada di bagian mana? Paling bagus, panas ada di ujung depan/di bawah lid (layar). Panas tepat di bawah hand pad tentu sangat mengganggu aktivitas. Kalau terpaksa panasnya disitu, pastikan panasnya bukan di area tempat yang sering dijadikan landasan tapak tangan. Panas biasanya ditimbulkan di bagian suplai listrik & hard disk.

- Berapa bobot laptop yang bisa elu tolerir. Untuk spek laptop biasa, berat 2,0-2,5 kg sudah bisa dibilang cukup. Kalau mau lebih ringan, biasanya sudah rambah ke spek UMPC dan tablet PC. Muahal? Enggak kalau elu pilih merek lokal kayak Relion atau AXIOO.

- Sama halnya dengan ukuran, berapa batas minimal yang dibutuhkan. Untuk laptop PC, ukuran makin kecil (< 14,1 inci) biasanya makin mahal dibanding versi sevarian. Kalau mau layar gede, 14,1 inci sudah cukup, kalau sudah sampai 15 inci, biasanya berpengaruh pada bobot totalnya. Kecuali kalau memang elu rela untuk beli laptop sebagai desktop replacement.

- Umur pakai batere, kalau seringnya dicolok ke listrik alias sering di indoor, spek batere standard sudah cukup. Tapi kalau bicara outdoor, opsi batere long life seperti versi extended bisa jadi rujukan. Cukup signifikan lho. Batere 2.500-3.000 mAh aktif kisaran 1 jam, medium extended berkisar 4.000-5.000 mAh bisa 3 jam lebih, atau malah yang full extended kisaran 6.000-7.200 mAh bisa 5 jam lebih!

- Keperluan lapangan: Ini buntutnya kalau elu memang orangnya mobile. Apabila sering elu pakai di medan cukup ekstrem seperti outdoor atau elu karakternya sebagai ‘pemakai jorok’, spek laptop ‘tahan banting’ pun bisa jadi pilihan. Kalau sudah seperti ini, relakan kalau harga laptopnya mahal lantaran urusan bungkusan/casing! Seperti Lenovo ThinkPad (IBM) menyediakan fitur peredam hard disk, casing magnesium dengan bodi serat FRP hingga ‘selokan’ untuk cipratan air 60 cc tanpa ngerusak. Atau juga Dell. Ciri khasnya laptop tahan banting adalah tebalnya pada sisi frame lid LCD. Jadi, kalaupun tidak berbicara 2 merek itu, pastikan kekokohan casing yang dimiliki. Jangan sampai jatuhnya nyesel, 3 bulan pakai lid LCD kalau dibuka bunyinya bikin sakit kuping!

(foto: www.lenovo.com)

3. Kebutuhan Teknis

Sudah yakin di poin dua diharapkan sudah ada bayangan model & merek laptop apa yang diincar. Kalau iya, baru bicara kebutuhan spesifikasi teknis yang dibutuhkan, entah soal prosesor, memory, harddisk, VGA hingga periperal semacam soundcard, speaker atau malah kamera webcam.

a. Prosesor

Prosesor jangan dijadikan prioritas utama kalau ternyata pemakaian hanya banyak untuk wordprocessing alias ngetik. Juga untuk keperluan browsing atau internet secara personal. Kecuali kalau elu butuh untuk programming, gaming, multimedia editing, CAD hingga keperluan engineering. Tapi lain halnya kalau dipertimbangkan apabila laptop elu beli bakal dipakai 2-5 tahun ke depan, dimana elu berencana upgrade internal untuk masa tertentu seperti tambah memory atau ganti hard disk. Belum lagi adanya kebutuhan untuk install OS baru seperti Vista (doi butuh prosesor ganda/dual core).

b. Memory

Memory jadi sangat penting kalau sudah bicara kecepatan sistem. Prosesor kencang tapi memory kecil berujung kinerja sistem yang mubazir alias lelet. Jangan upgrade ke Vista kalau memory hanya 512MB, pelan Bos! Jangan install XP kalau memory cuman 128 MB, lueelet Bos! Syukur, pertimbangan laptop justru diutamakan ke besar memory dulu apabila pemakaian untuk keperluan ‘serius’ seperti internet, grafis atau malah programming. Begitu juga langkah upgrade, memory kalau bisa diutamakan dulu dibanding hard disk.

c. Hard disk

Buat yang sekadar simpen data non-multimedia, ukuran hard disk 80 GB sudahlah cukup. Kecuali kalau ternyata elu sangat menyukai download lagu-lagu, file video, foto-foto, hard disk bisa saja di upgrade. Tapi itu bisa saja cukup dengan membeli hard disk eksternal yang pemakaiannya justru lebih menyenangkan.

d. VGA card

Nah, laptop akan makin murah kalau memory VGA-nya shared dengan memory sistem. Tapi akan jadi enggak cukup apabila laptop dipakai untuk keperluan multimedia seperti video editing atau CAD bila VGA berbicara shared. Kurang fleksibel. Yang ada, pilihan laptop yang sudah built in VGA card berakselator bisa jadi pertimbangan.

e. Multimedia

Bagi gue, speaker laptop enggak penting. Belum tentu kan buat elu. Sama juga webcam atau tombol short cut media. Kalau memang elu butuh speaker Harman Kardon, lirik laptop Toshiba, atau yang rada ajeb-ajeb kayak Altec Lansing, lirik Compaq Pressario. Asal ingat, penambahan fitur-fitur ini juga berpengaruh pada harga bila dijual dalam kondisi baru.

(foto: www.notemart.co.kr)

             f. Optional

Optional ini bicara fitur-fitur tambahan untuk mendukung sistem. Contohnya Security chip di ThinkPad berupa fingerprint recognition. Kalau memang elu butuh akses yang secure, opsi tersebut bisa jadi pilihan. Sama halnya dengan pilihan batere, apakah yang berukuran standar atau yang extended. Kalau memang sering dipakai lapangan, pilihan batere extended life bisa dibilang aworthed.

4. Pelajari Testimonial

Beli laptop tentu jangan sampai kayak beli ayam dalam karung, to!? Sebelum yakin beli, tanyakan kanan-kiri kalian dan baca beberapa situs review untuk simak karakter dan komparasinya. Syukur ikut forum-forum yang seringkali membahas barang bersangkutan. Jadi, jangan langsung percaya apa yang dikata sales. Ok, sob!?

 

(foto: www.hitechlive.com.br)

5. Garansi & Nilai Jual

Kalau beli seken, garansi memang sedikit ditempiskan. Paling lama juga hanya sebulan. Lain kalau bicara laptop baru. Saran gue sih, pilih opsi garansi hingga 3 tahun. Ini untuk asumsi kalau memang pemakaian elu selama itu. Kalau pun tidak, cukup menguntungkan untuk harga nilai jual nantinya, betul?! Banyak merek yang sudah memainkan garansi 3 tahun. Kalaupun tidak di suatu produk, bisa ‘diupgrade’ dengan penambahan harga sekitar Rp. 200-500 ribu. Cukup mahal memang. Tapi ini cukup menguntungkan buat elu selama pemakaiannya.

 

Hehe, rumit ya? Beli laptop saja sudah kayak mau pilih jodoh! :D Tapi itulah benar adanya bagi gue setelah sukses beli Lenovo Z61T (huh, sayangnya sekarang seri Z sudah diskontinu!). Tadinya naksir Lenovo Y400 33A karena ‘murahnya’ doi dibanding merek lain dengan spek yang sama. Nah setelah liat kondisi casingnya, gue langsung pindah ke ThinkPad R60 dengan pertimbangan gaya pakai gue memang jorok (Toshiba Portege gue yang uzur itu sukses keinjak dan layar pun muncul siluet gambar daun :P ). Setelah ditimang-timang, dengan menambah sekitar Rp 1 jutaan gue dapat Z61T A89 yang kebetulan modelnya lebih fancy, lidnya berlapis titanium (ini yang kayaknya bikin doi diskontinu; keluar karakter desainnya ThinkPad!!). Penambahan ini sangat aworthed, karena bobot lebih ringan, ukuran lebih tipis, dilengkapi webcam, fingerprint dan spek jeroan lebih tinggi!

Nah kalau ada yang tanya kenapa dari Y400 malah jadi beli ThinkPad Z61T? Hehe, gue enggak konsisten soal bujet… Namanya orang ngiler, ya godaan setan belanja pun kambuh. Duit pun keluar jadi lebih banyak. Makanya, cukup bahaya lho kalau bujetnya enggak dipastiin. Ok, Sob!? Kalau masih bingung, banyak versi cara memilihnya. Elu bisa klik situs About.com tentang artikel “Before You Choose a Notebook PC” atau artikel “Before You Buy a Notebook Computer” atau di website Gadgetspage.com dan www.eHow.com. Selamat mencoba!

 

Next Page »