PILIH TUNE-IN APA PUSHING??

Wah wah, banyak pertanyaan pula datang ke gue soal pilih PDA bagusan yang mana? Waduh, gue enggak mau berlagak sok tahu, karena memang gue juga sama; masih awam soal teknologi PDA. Tapi enggak apa-apa, gue sekarang paparkan berdasarkan pengalaman saja. Enggak salah kan? Apalagi banyak sekali produk PDA (personal digital asistant) yang bisa aja elo gebet. Tapi seperti apa? Nah pertanyaan ini enggak gampang dijawab dan enggak semudah disarankan secara sepihak. Sama seperti pilih komputer, the need based itu wajib. Tapi seperti apa?

 

Foto oleh Artha & model Alyne

Okey Sob, jawabnya enggak segampang elu pilih ponsel. Ya, ponsel sudah beragam varian, tinggal pilih berdasarkan bujet. Enggak usah pusing lagi, pilih ponsel seminimalnya ada Bluetooth, GPRS kelas 10, sms > 160 karakter, bisa 3G pula. Semua bermain di rentang harga yang cukup lebar, mulai Rp 1 jutaan hingga 10 jutaaan. Jadi, soal ponsel enaknya dibahas nanti saja. Atau enggak perlu dibahas? 😀 Nah beda banget kalau sudah berpindah ke PDA. PDA apa yang pantas kamu miliki? Intinya elo harus tune-in alias benar-benar pas dengan ‘gaya pemakaian’ terhadap kebutuhan PDA. Sangat disayangkan apabila pilihan jatuhnya bikin pusiiiing. Mubazir kan? Begini deh gue paparin.

Choice 1: PDA phone or not?

Bagi gue, PDA phone is must. Tapi belum tentu kan buat kalian. Kalau akhirnya elo hanya butuhin sebagai trully asistent, dalam artian dipakai untuk mencatat, merekam, juke box, internet hot spot, data storage, hingga guidance via GPS (kalau memang dilengkapi) dan semua berfungsi sebagai PC replacement for mobile, yup elo enggak salah pilih cukup PDA, bukan PDA Phone. Kapabilitas PDA non telepon biasanya lebih bagus dan –yang jelas- lebih bandel karena secara sistem tidak terganggu distorsi gelombang GSM sehingga konsumsi power dan kecepatan sistem terdongkrak efisien.

Nah itu mutlak bisa benar kalau kita tengok tren PDA era-era before 2007. Sekarang, posisi PDA malah jadi makin bergeser ke ‘smart multimedia storage’. Sudah enggak ada bedanya lagi, antara PDA HP rx5700 dengan Garmin Nüvi680, Archos 704 WiFi, Creative VISION W, bahkan iPod Touch! Tipis, Jack! Kalau sering buat tour guidance, ya pilih Garmin Nüvi. Buat nge-net via WiFi, ya Archos 704 yang harddisknya sampai 80 gigs! Kalau buat simpen foto, ya pilih Creative Vision W karena ada slot memory CF-nya! Atau totally simpen-simpen lagu, ya iPod Touch! Semua fungsinya sama kan? Assist elo ketika mobile? Hebatnya, semua alat itu bisa kok buat catat-mencatat, PDF viewer (kecuali Garmin), voice recorder hingga reminder via fitur agenda.

 

Sumber foto: farm1.static.flickr.com

Makanya, enggak beralasan bagi gue (ingat ya menurut gue) pilih PDA ya wajib sudah terkoneksi jaringan telepon, entah itu GSM atau CDMA. Fungsi itu baru benar-benar assist elo ketika mobile, khususnya komunikasi via telepon sering kali jadi tulang punggung kerjaan. Mulai dari simpan phonebook beribu-ribu, SMS beribu-ribu, call history beribu-ribu hingga ‘full mobile internet’ via GPRS, EDGE, UMTS or HSDPA. So, you go with me for choosing PDA Phone? 🙂

Choice 2: Smartphone or Pocket PC?

Nah, ini yang penting. Pilih smartphone apa pocket PC? Bagi istilah awam; ko-produknya smartphone adalah PDA. Khususnya yang membedakan antara PDA bersistem operasi (OS) Windows dengan yang tidak (Palm OS, Blackberry, Symbian bahkan Android). Ah itu sebetulnya istilah doang, apalagi istilah smartphone nyata-nyata diperkenalkan oleh Microsoft sebagai pembeda dengan Pocket PC dimana smartphone tanpa sistem input touch screen dan fitur office-nya hanya berfungsi sebagai viewer. Untuk itu, gue lebih enak memilah dua istilah ini dengan irisan sebagai berikut yang memang berdasarkan sistem operasi yang dipakai.

Smartphone –> PDA phone ber-OS non Windows Mobile (Symbian, Palm, Blackberry & [soon] Android) dan atau yang ber-OS Windows Mobile versi Smartphone (ciri khasnya: no touch screen dan Office viewer)

 

Sumber foto: http://www.gadgetmania.ro

Pocket PC –> PDA phone ber-OS Windows Mobile/WM (mulai WM6, WM5, WM2003, dan seterusnya).

 

Sumber foto: http://www.mobilissimo.ro


Kenapa pemilahan ini berdasarkan pakai tidaknya OS WM? Jawabnya simpel; WM itu ribet! Penyakitnya seperti OS PC (entah Windows 98, 2000, XP bahkan Vista) yaitu suka crash, hang dan rawan virus. Belum lagi power consumption WM tergolong parah dibanding smartphone (baca: PDA phone non Windows based). Makanya tidak heran, smartphone dijadikan pelarian. Dan enggak heran pula, Steve Ballmer (CEO Microsoft) suangat panik dengan kehadiran Android dan makin panik pula dengan kehadiran GPhone. Ya, gue enggak sabar berpindah ke telepon ber-OS ‘saudara’ dari Symbian yang bersifat open source ini!

Tapi kenapa gue tetap pakai Pocket PC? Jawabnya simpel, gue orang yang ‘dikorbankan’ menjadi PC Slave. Tiap detik tiap waktu, OS Windowslah jadi andalan. Jadi mau tidak mau, konektivitas data yang tepat untuk berfungsi sebagai PC replacement ya pilih Pocket PC. Sinkronisasi reminder, address book, notes, MS Word, Excel hingga back up data nyuambung banget antara Pocket PC dengan OS Windows PC. Lantas bagaimana dengan Smartphone Windows? Kepraktisan touch screen gue akui tidak bisa disingkirkan. Belum lagi, fungsi input di Office seringkali berpindah ke PDA! So, Pocket PC adalah yang pas bagi gue, khususnya buat kerjaan yang kaitannya dengan tulis-menulis, bikin janji ini-itu, rekam ini itu, foto ini-itu, etc etc.

Jadi yang pas buat kamu? Ayo bikin listing berikut ini:

Enggak mau sering charge batere (maksimalnya sehari sekali), enggak mau ribet soal power supply (additional external batere alias cadangan, tiap saat siap charger termasuk mobile charger spek cigarette lighter plug), enggak mau ukuran besar-besar, emoh install-install program, anti soal nge-hang/crash/virus, cuman buat catat-catat tanpa ada kaitan ke laptop/desktop PC, cuman buat Office viewer (jarang kepaksa kerja via PDA), e-mailing tanpa ada sangkut pautnya dengan Outlook PC di laptop/desktop, dan sebal dengan all Microsoft things => Pilih Smartphone

Mau rajin-rajin nge-charge batere (dan setiap saat bawa mobile charger atau syukur batere cadangan), benar-benar PC Slave, benar-benar butuh sinkronisasi data ‘all Microsoft things’ (Office termasuk Outlook, reminder, address book), sering terpaksa butuh Office disaat jauh dari laptop/desktop PC, suka install-install program dan game (apalagi tergiur oleh banyaknya ragam jenisnya), dan tentunya you don’t hate too much Microsoft things => Pilih Pocket PC.

Kalau dikerucutkan, mana yang dipilih sistem operasi (OS) yang pas buat elu?

WM Pocket PC => Benar-benar Windows banget, bedanya dibatasi oleh sebuah kemampuan prosesor dan memory yang pelit.

WM Smartphone => ‘A Symbian wannabe’ from Microsoft, cuman input hanya lewat keypad (syukur ada bertombol QWERTY, tanpa touchscreen) dan tentunya Office Viewer doang. Mungkin ini dijabani biar lebih irit batere… 😛

Symbian => Soal kepraktisan, OS bertulang bahasa Java script ini jagonya. Sayangnya, fitur Office-nya masih kalah dengan produknya Windows Mobile. Kalau enggak butuh fitur Office, saran PDA Symbian cukup aworthed dimiliki (contohnya Nokia E61i atau E90 atau Sony Ericsson P1i atau malah M600) .

Palm => Kalau versi desktop atau laptop, anti Microsoft dijabani dengan Mac-maniac. Nah kalau PDA, kalau tidak WM ya Palm 😛 Bisa main-main install cuman populasi source program additionalnya enggak sebanyak buat WM. Hebatnya, Palm jauh ramah batere ketimbang WM! Sayang, Treo yang notabene flagshipnya untuk Palm OS ngelacur di Treo750 karena pakai WM5!

Blackberry => Another powerfull OS, apalagi sistemnya terkoneksi server push mail mumpuni. Terus terang, gue masih gelap soal ini. Denger-denger sih, antara Xplor, Indosat dan Telkomsel berkoar-koar dalam kecepatan aksesnya via rujukan server yang diikuti. Entah lewat Verizon, T-Mobile, Cingular, Sprint, Nextel, AT&T atau apalah namanya. So, CMIIW ya.. hehehe

Android => Haha, gue tunggu-tunggu nih… Lewat konsep GPhone ketika telepon enggak perlu pencet nomor tapi id google account lo aja! Sifatnya kayak Linux, open source banget dan basiknya kalau tidak salah pakai Java Script juga, seperti Symbian. Lagi-lagi, CMIIW yaa…. hehehe

Choice 3: QWERTY Pad

Input data PDA lewat tombol QWERTY adalah penting jadi pertimbangan. Ini disesuaikan dengan ‘kebiasaan’ elo untuk tune-in dalam pemakaiannya. Ada dua jenis orang yang mengmahfumi soal keberadaan tombol QWERTY, yaitu pihak pertama yang suka dengan one hand operation alias cukuplah satu tangan yang bekerja dan pihak kedua yang rela dengan two hand operation alias mau repot dengan dua tangan untuk operasiin PDA! Kira-kira gambaran tipikal dua pihak ini adalah sebagai berikut:

 

Sumber foto: http://www.ce.cn

One hand operation: Totally mobile, tidak rela tas tenteng ditaruh di jalan lalu utak-atik PDA, tidak rela tangan satunya lepas dari rokok/buku/remasan tangan pacar :P, tidak punya sopir kalau naik mobil, ya mungkin juga jarang naik taksi, acara makan enggak rela diganggu dengan SMS/e-mail masuk, sebal pakai stylus (belum lagi ribet kalau hilang), dan mungkin punya telepon lain dan dipegang di tangan lainnya.

Sumber foto: hpc.ru

 

 

 

 

 

Two hand operation: Wait, gue susah gambarin tipikal pihak ini. Pakai mobil pasti bersopir juga belum tentu, rela taruh tas atau sesuatu yang dipegang di tangan lainnya hanya untuk utak-atik ya belum tentu, atau jangan-jangan ‘show off’ pakai gadget mumpuni? 😛 Asli, gue salah satu pembenci PDA jenis ini, seberapapun canggihnya, seberapapun mahalnya. Ini dia yang bikin gue heran, kenapa Nokia Komunikator laku keras di Indonesia! Kenapa enggak sekalian beli Flybook yang sudah insert GSM simcard? Hehehe…. Okey lah, gue enggak nyalahin juga dengan PDA seperti ini. Buktinya Dopod 838 Pro juga laku, Nokia 9300 ya kayak kacang goreng, iPaQ rw6828 cukup lucu, O2 XDA Zinc mayan bergengsi. Wah Dopod U1000? Hehehe, enggak deh….

 

Jadi mana yang dipilih?

  1. Only QWERTY touch screen

PDA ini umumnya lebih murah dibanding jenis PDA yang ditambah additional pad (baik QWERTY pad maupun key phone pad). Ragam produknya lebih banyak dan rentang harganya juga lebih luas sehingga elu banyak pilihan. Ingat, pilihan nomor 1 ini harus diikuti kerelaan elu dengan keahlian bermain stylus, mau pilih cukup QWERTY atau justru pilih fitur input block recognizer, decuma onspot, letter recognizer atau transcriber. Mau pakai cara one hand operation? Piara deh kuku jempol buat pengganti stylus, hehehe! Itu enggak perlu semisal saja sistem inputnya sudah mengikuti Mac OS di iPhone; tidak perlu stylus, tidak perlu benda keras, cukup sentuhan jari saja dan touch screennya dijabani dengan cara unik seperti kalau elu pakai laptop Mac!

 

Sumber foto: blogs.zdnet.com

  1. Only QWERTY touch screen plus key pad

Bersyukur, sekarang kelemahan PDA disiasati dengan tombol utama bergaya key pad seperti ponsel. Gue enggak hafal produknya mana, ciri khasnya bisa dalam bentuk ‘main pad’ seperti ponsel atau additional pad dengan desain hidden slidding.

 

Sumber foto: http://www.tecnogadgets.com

  1. QWERTY pad sebagai prime button

Ini dia favorit gue, tombol QWERTY dijadikan main pad. Contohnya makin kesini makin banyak, mulai varian Treo, HP hw6500 series (gue gebet hw6515 hehe) atau 6900 series (ya hw6965 itu lho..) atau malah terbaru 910 yang sayangnya belum masuk, Sony Ericsson P1i dan M600, Nokia E61i, Samsung i780, Motorola MotoQ series, varian Blackberry dan lain-lain. Lantas bagaimana cara memilihnya kalau didasarkan opsi nomor 3 ini? Cari tombol yang menurut elu enak dipencet, tombol enggak kegedean atau kekecilan. Terus, pilih mana yang tombol khusus keypad telepon (biasanya dibedain warnanya) yang pas buat elu, di bagian kiri atau kanan? Terus, pilih mana yang enak dengan jangkauan jempol kamu yang paling pas kalau cara one hand operation dipilih. Terus… Wah intinya, PDA yang paling praktis menurut gue yang yang opsi ini! Titik.

Sumber foto: http://www.tech2.com

  1. QWERTY pad sebagai additional button

Ada banyak cara menambah kepraktisan tombol QWERTY dengan cara memposisikannya sebagai additional button. Seperti O2 XDA Zinc, Dopod UC eh U1000 bahkan Nokia Komunikatro (entah 9300, 9500 bahkan E90). Wah, bagi gue, tetap saja enggak praktis. Harus buka lid atau slide padnya, baru ditekan-tekan dengan dua tangan! Duh… duh… duh….

 

Sumber foto: http://www.navigadget.com

Choice 4: Additional Features

Kelengkapan fitur PDA linier dengan harga yang harus kamu tebus. Tapi pintar-pintarlah mengkomparasi harga itu dengan ukuran prosesor yang dipakai, memory internal (baik ROM maupun RAM), slot memory card, koneksi Bluetooth, network yang dimiliki, transfer data wireless (entah WiFi atau broadband sekelas UMTS atau HSDPA), ukuran layar (woi, hw6515 berukuran 240×240 piksel, susah banget cari game yang pas!), ukuran batere (berikut klaim durasi pemakaian), beratnya, ukurannya, dan lain-lain. Intinya, elu harus jeli mencermati spek yang dimiliki. Kalau terpaksa beli seken demi fitur yang mumpuni, kenapa tidak? Kalau hw6515 Rp 2-3 jutaan (seken) masih mulus dan bisa GPS (global positioning system) pula, kenapa tidak dibeli? 😛

Choice 5: (Lagi-lagi) Testimonial

Sama seperti pilih laptop, pelajari testimonial di beberapa situs dan forum-forum online. Tanyakan, dimana kelemahan produk yang bakal elu incar. Syukur, elu dapat data atau info soal komparasi produk-produk tersebut. Ini biar memperkaya info lo soal PDA yang pengin dipilih. Cukup dulu, mungkin akan gue tambah-tambahin infonya nanti. Maaf, gue sudah ngantuk berat. Busyet, dah jam 12 malam aja nih…Untuk referensi lain, elu bisa klik www.smartdevicecentral.com, www.tekscientia.com, www.pctoday.com.
CMIIW & Daaaaaah……

 

Advertisements

 MITSUBISHI EVOLUTION X

            Isyu soal kehadiran Evo X sudah tersebar sejak 2004. Tapi semua penggila Evo masihlah gelap kapan mobil ini bakal dijual resmi. Sewaktu gue nongkrong akhir Juli 2007 di bengkel UFO1, Henry kasih bocoran kalau versi Evo X MR (versi balapnya atawa yang limited) sudah resmi keluar. Bocoran ini diakuinya dari pembesar HKS di Jepang. Sayang, rekan gue dari OTOMOTIF, om Bulu, tidak menuliskan detail price list resmi Evo X MR untuk pasar JDM. Di tabloid OTOMOTIF No. 27 terbitan 5 November hanya menulis harga Evo X (standard??) dilepas 2,9-3,75 yen atau dikisar Rp. 250-300 juta! Well well, benar tidaknya, ayok deh simak tulisan gue yang pernah terbit di majalah MOTOR edisi 312 terbitan 1-14 September 2007.

NOT JUST ROMAN X

Hanya 4.000 unit dengan trisula varian; RS 5M/T, GSR TC-SST dan 5M/T

(Foto: http://www.motorauthority.com)

            Bukan sekadar huruf romawi X saja, debut Mitsubishi Evolution gres ini memang patut menyandang initial X yang mengidiomkan sosok ekstrem. Sejak debut konsepnya di Tokyo Motor Show 2005, publik berdecak kagum sekaligus menanggalkan tanda tanya besar. Jawaban sebuah sosok Prototype-X di North American International Auto Show (NAIAS) Januari silam masih belum juga menuntaskan kegamangan Evo-enthusiast!

            Tenang, MOTOR berusaha membedahnya. Menurut info yang kami terima, Evo X siap digebet Oktober nanti di ajang Tokyo Motor Show! Harga masih buram, ada yang mengestimasi 35.924 USD atau malah 42.000 Euro (belum plus-plus pajak sini, lho!). Toh mirip varian Evo MR sebelumnya. Bedanya, keluar hanya 4.000 unit dalam trisula varian; GSR TC-SST/semimatik (2.900 unit), GSR 5M/T (1.000 unit) dan RS 5M/T (100 unit)!.

            Seperti apa Evo X? Secara desain sepintas mengulang sukses kegarangan hidung hiu Galant generasi 8. Indikasi ini menguatkan kalau Evo X sudah menanggalkan platform CT9A (Evo VII, VIII dan IX), diganti dengan versi gres CZ4A. Dimensi pun berubah. Dengan ukuran (p x l x t) 4.495 x 1.810 x 1.480 mm, CZ4A ini lebih pendek 39,5 mm, lebih lebar 39,5 mm dan lebih tinggi 29,5 mm dengan wheelbase 2.640 mm.

             ‘The legend’ 4G63T jadi kenangan sudah. Penggantinya adalah 4B11 MIVEC 4 silinder segaris DOHC 16 katup. Mesin hasil aliansi bareng DaimlerChrysler dan Hyundai ini juga dijejali turbo sehingga daya estimasinya 286 dk. Itu dibarengi dengan transmisi canggih mirip DSG (Direct Shift Gearbox) Audi di varian matiknya yaitu Twin Clutch Sport Shift Transmission (TC-SST). Detailnya bisa elu lihat di ‘bocoran’ spek halaman ini!

ToM! (dari berbagai sumber)

SENJATA KAKI-KAKI

            Selain TC-SST yang memakai fitur paddle shift dengan sistem kopling independen; satu untuk gigi 1/3/5 dan dua untuk gigi 2/4/6, Evo X hadir dengan fitur canggih S-AWC. Apa itu? Kepanjangan dari Super All Wheel Control adalah racikan senjata mumpun untuk handling kaki-kaki. Pada prinsipnya, S-AWC mengkolaborasikan kendali active center differential, active yaw control dan active stability control sehingga torsi dan pengereman pada kaki dapat didistribusikan secara ‘nyaris’ sempurna.

THE NEED BASED!

Gue jujur enggak terlalu mendalami dunia produk informasi secara detail, termasuk pasaran laptop yang beredar. Tapi yang lebih awam dibanding gue malah termasuk banyak. Banyak pertanyaan yang terlontar untuk pilih seperti apa laptop yang dimaui. Atau malah baikan pakai laptop atau desktop. Nah soal terakhir ini coba gue paparkan berdasarkan pengamatan sendiri sebagai berikut. (Hehe, maaf kalau salah. Ini hanya persepsi spontan gue saja).

Bagusan mana antara laptop apa desktop? Jawabnya tergantung kebutuhan elo. Simpel kan? Memang pergeseran harga laptop PC (ber-OS Windows makin turun. Harganya bisa gue bilang tinggal seuprit lagi deh bedanya dengan harga desktop. Lantas mending beli laptop? Jawabnya ya belum tentu! Buat yang demen utak-atik alias oprek-oprek jeroan komputer, laptop tentu berposisi lemah dibanding dekstop.

Lantas bagusan mana antara Mac OS dengan PC/Windows? Ya sama, jawabnya tergantung. Dipakainya lebih banyak buat apa? Kalau untuk multimedia (foto, grafis atau film) ‘mungkin’ Mac OS lebih aworthed dibanding PC. Tapi kalau benturan Mac OS lebih banyak bicara konektivitas (contohnya networking LAN di kantor, aplikasi USB hingga kompatibilitas data aplikasi) PC/Windows lebih menang.

Okey, desktop kalau sudah jadi pilihan, silakan pilihan technical requirement yang dimaui, mulai bicara kecepatan prosesor, kapasitas memory, besar hard disk, performa VGA, hingga urusan pilih monitor LCD atau CRT. Semua dikembalikan pada bujet uang yang disediakan. Kalau enggak mau repot, beli yang sudah punya stempel merek kayak HP, Lenovo, Acer, Wearness hingga B/Y/O/N (merek lokal sudah banyak untuk produk ini). Kalau mau bermain rakitan, tinggal mainkan proporsi kebutuhan hardware buat pemakaian, apakah hanya dominan untuk wordprocessing, browsing, chating, gaming, programming, multimedia editting dan lain-lain.

Yup, pilih laptop juga begitu. Hanya saja lebih rumit. Banyak pertimbangan yang jadi landasan untuk memilihnya. Tapi semua dikembalikan juga pada bujet uang yang dimiliki. Kepuasan membeli laptop bukan hanya dapat harga yang murah, tapi juga kesesuaian barang dengan apa yang elu mau.Ya, the need di sini jadi poin penting. Menurut gue, ada beberapa urutan yang perlu elu lakukan sebelum beli laptop.

  1. Uang

Betul Bos, pertama kita wajib tentuin dulu bujet duit yang elu sediain. Pastikan seberapa elu mampu untuk membeli sebuah laptop. Kalau ujung-ujungnya memimpikan suatu laptop mantap tapi duit lagi kolaps ya jangan paksain beli yang baru. Solusi barang seken atau refurbish enggak berdosa, kok! Tinggal pintarnya kita saja untuk mendapatkan barang seken yang bagus seperti apa. Biasanya sih untung-untungan kalau bicara kondisi laptop seken. Oya, kalau sudah siap beli yang baru/gress, pastikan beli pada saat nilai Rupiah terhadap Dollar sedang stabil. Itu biar elu enggak sakit hati, hehehe!

2. Jenis Keperluan

Jenis keperluan ini yang elu camkan. Jangan lantas silau dengan harganya yang murah, tiba-tiba elu kecewa dengan apa yang telah dibeli karena enggak pas dengan kebutuhan elu. Gue pilah ada 4 jenis keperluan yang biasanya jadi pegangan. Masing-masing keperluan itu masih bisa mengiris satu sama lain, yaitu:

Keperluan taste dan gaya hidup: Pertimbangan desain dan gengsi merek bisa berposisi dominan disini. Pilihan bisa jatuh ke Sony VAIO, Fujitsu atau malah Apple MacBook/Pro. Biasanya, opsi limited edition bisa mendukung kebutuhan ini. Kalau gengsi merek ditepikan, laptop lokal sudah berani bermain fashion casing yang menarik, kayak Zyrex, B/Y/O/N atau Ion. Malah di antara mereka ‘meniru-niru’ desain minimalis MacBook! Biasanya laptop gaya untuk PC formatnya UMPC (Ultra Mobile Portable Computer), PC Tablet, atau laptop spek ultra light!

(foto: http://www.zdnet.co.uk)

Keperluan kerja: Paling gampang berpatok pada keperluan ini. Kalau banyakan buat ngetik, pilih yang murah sudah cukup dimana spek teknisnya enggak ‘berat-berat’. Buat editing foto, biasanya menyasar besar memory dan harddisk. Sama juga kalau elu banyak buat online internet apalagi bermain limewiring atau demen download atau upload file seperti ‘demam Youtube’ (*.flv). Buat editing grafis atau film, MacBook atau MacBook Pro pasti jadi pilihan apalagi kalau didukung peer to peer di network dengan produk yang sama. Untuk gaming? Nah ini yang cukup berat, yang pasti PC based, bukan Mac OS. Butuh prosesor, memory, hard disk gede dan tentu bukan VGA shared! Untuk server? Wah… jangan pilih pakai laptop deh! 😛

 

(foto: http://www.notebooks.com)

Keperluan mobilitas: Elu sebagai orang yang cukup mobile? Suka pindah-pindah atau bosenan duduk di suatu pojokan ruangan. Ya tentu pililh laptop, desktop sudah pasti dicoret dari pilihan. Lantas pertanyaannya:

(foto: http://www.rentacomputer.com)

Mobilitasnya seperti apa?

Membutuhkan konektivitas wireless?

Tengok ketersediaan hardwarenya, apakah butuh Bluetooth, Firewire, slot USB, PCMCIA, slot memory card reader atau malah cari yang sudah built in GSM Card?

Seberapa sering elu pakai alat-alat yang pakai konektivitas jenis itu?

Karakter elu pakai laptop seperti apa?

Seringkah dipakai outdoor?

Seringkah dipangku, jarang dipakai untuk ditaruh di meja?

Kalau itu sudah bisa dijawab. Silakan ceklist soal ketersediaan dan spesifikasi laptop yang elu maui;

Ada tidaknya Bluetooth (di laptop PC, penambahan fitur ini menambah harga sangat banyak, bandingkan apabila elu cukup pakai Bluetooth dongle/USB yang berkisar Rp. 50-150 ribu). Makanya, kembali ditanyakan, penting enggak Bluetooth itu elu pakai?

Berapa banyak jumlah slot USB. Syukur juga dipertimbangkan ada tidaknya slot koneksi Firewire (umumnya data foto), S-Video, PS2 dan lain-lain. Makin lengkap, tentu harganya makin mahal. Kecuali ada perencanaan untuk menambah peranti sebuah docking.

Berapa banyak jumlah slot PCMCIA dan posisinya ada di kiri/kanan (kaitan soal spot panas apabila elu pakai modem PCMCIA, tangan mana yang sering menempel). Ini menangnya laptop PC, laptop Apple (baik MacBook atau yang Pro) tidak ada koneksi seperti ini!

Sudahkah siap untuk melakukan networking via LAN atau WiFi? Untungnya, prosesor Intel Core Duo sudah built in wireless LAN. Menurut gue, jaman sekarang fitur ini wajib. Even itu elo beli seken!

Bicara panas, cermati parahkah panas yang ditimbulkan, dan ada di bagian mana? Paling bagus, panas ada di ujung depan/di bawah lid (layar). Panas tepat di bawah hand pad tentu sangat mengganggu aktivitas. Kalau terpaksa panasnya disitu, pastikan panasnya bukan di area tempat yang sering dijadikan landasan tapak tangan. Panas biasanya ditimbulkan di bagian suplai listrik & hard disk.

Berapa bobot laptop yang bisa elu tolerir. Untuk spek laptop biasa, berat 2,0-2,5 kg sudah bisa dibilang cukup. Kalau mau lebih ringan, biasanya sudah rambah ke spek UMPC dan tablet PC. Muahal? Enggak kalau elu pilih merek lokal kayak Relion atau AXIOO.

Sama halnya dengan ukuran, berapa batas minimal yang dibutuhkan. Untuk laptop PC, ukuran makin kecil (< 14,1 inci) biasanya makin mahal dibanding versi sevarian. Kalau mau layar gede, 14,1 inci sudah cukup, kalau sudah sampai 15 inci, biasanya berpengaruh pada bobot totalnya. Kecuali kalau memang elu rela untuk beli laptop sebagai desktop replacement.

Umur pakai batere, kalau seringnya dicolok ke listrik alias sering di indoor, spek batere standard sudah cukup. Tapi kalau bicara outdoor, opsi batere long life seperti versi extended bisa jadi rujukan. Cukup signifikan lho. Batere 2.500-3.000 mAh aktif kisaran 1 jam, medium extended berkisar 4.000-5.000 mAh bisa 3 jam lebih, atau malah yang full extended kisaran 6.000-7.200 mAh bisa 5 jam lebih!

– Keperluan lapangan: Ini buntutnya kalau elu memang orangnya mobile. Apabila sering elu pakai di medan cukup ekstrem seperti outdoor atau elu karakternya sebagai ‘pemakai jorok’, spek laptop ‘tahan banting’ pun bisa jadi pilihan. Kalau sudah seperti ini, relakan kalau harga laptopnya mahal lantaran urusan bungkusan/casing! Seperti Lenovo ThinkPad (IBM) menyediakan fitur peredam hard disk, casing magnesium dengan bodi serat FRP hingga ‘selokan’ untuk cipratan air 60 cc tanpa ngerusak. Atau juga Dell. Ciri khasnya laptop tahan banting adalah tebalnya pada sisi frame lid LCD. Jadi, kalaupun tidak berbicara 2 merek itu, pastikan kekokohan casing yang dimiliki. Jangan sampai jatuhnya nyesel, 3 bulan pakai lid LCD kalau dibuka bunyinya bikin sakit kuping!

(foto: http://www.lenovo.com)

3. Kebutuhan Teknis

Sudah yakin di poin dua diharapkan sudah ada bayangan model & merek laptop apa yang diincar. Kalau iya, baru bicara kebutuhan spesifikasi teknis yang dibutuhkan, entah soal prosesor, memory, harddisk, VGA hingga periperal semacam soundcard, speaker atau malah kamera webcam.

a. Prosesor

Prosesor jangan dijadikan prioritas utama kalau ternyata pemakaian hanya banyak untuk wordprocessing alias ngetik. Juga untuk keperluan browsing atau internet secara personal. Kecuali kalau elu butuh untuk programming, gaming, multimedia editing, CAD hingga keperluan engineering. Tapi lain halnya kalau dipertimbangkan apabila laptop elu beli bakal dipakai 2-5 tahun ke depan, dimana elu berencana upgrade internal untuk masa tertentu seperti tambah memory atau ganti hard disk. Belum lagi adanya kebutuhan untuk install OS baru seperti Vista (doi butuh prosesor ganda/dual core).

b. Memory

Memory jadi sangat penting kalau sudah bicara kecepatan sistem. Prosesor kencang tapi memory kecil berujung kinerja sistem yang mubazir alias lelet. Jangan upgrade ke Vista kalau memory hanya 512MB, pelan Bos! Jangan install XP kalau memory cuman 128 MB, lueelet Bos! Syukur, pertimbangan laptop justru diutamakan ke besar memory dulu apabila pemakaian untuk keperluan ‘serius’ seperti internet, grafis atau malah programming. Begitu juga langkah upgrade, memory kalau bisa diutamakan dulu dibanding hard disk.

c. Hard disk

Buat yang sekadar simpen data non-multimedia, ukuran hard disk 80 GB sudahlah cukup. Kecuali kalau ternyata elu sangat menyukai download lagu-lagu, file video, foto-foto, hard disk bisa saja di upgrade. Tapi itu bisa saja cukup dengan membeli hard disk eksternal yang pemakaiannya justru lebih menyenangkan.

d. VGA card

Nah, laptop akan makin murah kalau memory VGA-nya shared dengan memory sistem. Tapi akan jadi enggak cukup apabila laptop dipakai untuk keperluan multimedia seperti video editing atau CAD bila VGA berbicara shared. Kurang fleksibel. Yang ada, pilihan laptop yang sudah built in VGA card berakselator bisa jadi pertimbangan.

e. Multimedia

Bagi gue, speaker laptop enggak penting. Belum tentu kan buat elu. Sama juga webcam atau tombol short cut media. Kalau memang elu butuh speaker Harman Kardon, lirik laptop Toshiba, atau yang rada ajeb-ajeb kayak Altec Lansing, lirik Compaq Pressario. Asal ingat, penambahan fitur-fitur ini juga berpengaruh pada harga bila dijual dalam kondisi baru.

(foto: http://www.notemart.co.kr)

             f. Optional

Optional ini bicara fitur-fitur tambahan untuk mendukung sistem. Contohnya Security chip di ThinkPad berupa fingerprint recognition. Kalau memang elu butuh akses yang secure, opsi tersebut bisa jadi pilihan. Sama halnya dengan pilihan batere, apakah yang berukuran standar atau yang extended. Kalau memang sering dipakai lapangan, pilihan batere extended life bisa dibilang aworthed.

4. Pelajari Testimonial

Beli laptop tentu jangan sampai kayak beli ayam dalam karung, to!? Sebelum yakin beli, tanyakan kanan-kiri kalian dan baca beberapa situs review untuk simak karakter dan komparasinya. Syukur ikut forum-forum yang seringkali membahas barang bersangkutan. Jadi, jangan langsung percaya apa yang dikata sales. Ok, sob!?

 

(foto: http://www.hitechlive.com.br)

5. Garansi & Nilai Jual

Kalau beli seken, garansi memang sedikit ditempiskan. Paling lama juga hanya sebulan. Lain kalau bicara laptop baru. Saran gue sih, pilih opsi garansi hingga 3 tahun. Ini untuk asumsi kalau memang pemakaian elu selama itu. Kalau pun tidak, cukup menguntungkan untuk harga nilai jual nantinya, betul?! Banyak merek yang sudah memainkan garansi 3 tahun. Kalaupun tidak di suatu produk, bisa ‘diupgrade’ dengan penambahan harga sekitar Rp. 200-500 ribu. Cukup mahal memang. Tapi ini cukup menguntungkan buat elu selama pemakaiannya.

 

Hehe, rumit ya? Beli laptop saja sudah kayak mau pilih jodoh! 😀 Tapi itulah benar adanya bagi gue setelah sukses beli Lenovo Z61T (huh, sayangnya sekarang seri Z sudah diskontinu!). Tadinya naksir Lenovo Y400 33A karena ‘murahnya’ doi dibanding merek lain dengan spek yang sama. Nah setelah liat kondisi casingnya, gue langsung pindah ke ThinkPad R60 dengan pertimbangan gaya pakai gue memang jorok (Toshiba Portege gue yang uzur itu sukses keinjak dan layar pun muncul siluet gambar daun :P). Setelah ditimang-timang, dengan menambah sekitar Rp 1 jutaan gue dapat Z61T A89 yang kebetulan modelnya lebih fancy, lidnya berlapis titanium (ini yang kayaknya bikin doi diskontinu; keluar karakter desainnya ThinkPad!!). Penambahan ini sangat aworthed, karena bobot lebih ringan, ukuran lebih tipis, dilengkapi webcam, fingerprint dan spek jeroan lebih tinggi!

Nah kalau ada yang tanya kenapa dari Y400 malah jadi beli ThinkPad Z61T? Hehe, gue enggak konsisten soal bujet… Namanya orang ngiler, ya godaan setan belanja pun kambuh. Duit pun keluar jadi lebih banyak. Makanya, cukup bahaya lho kalau bujetnya enggak dipastiin. Ok, Sob!? Kalau masih bingung, banyak versi cara memilihnya. Elu bisa klik situs About.com tentang artikel “Before You Choose a Notebook PC” atau artikel “Before You Buy a Notebook Computer” atau di website Gadgetspage.com dan www.eHow.com. Selamat mencoba!

 

(published at MOTOR ed. 306 May 2007 http://www.majalahmotor.com)

TEKNOLOGI & PROSES PEMBUATAN

ART OF MATERIAL ENGINEERING

Teknologinya justru berujung sebuah estetika desain yang bernilai sangat ekslusif

Inilah uniknya teknologi sebuah velg. Bukannya teknologi pembuatan mengikuti seni desain yang dimaui, melainkan sebaliknya. Teknologi justru berujung sebuah estetika desain yang nilainya sangat ekslusif. Hal demikian hanya terjadi pada pembuatan velg forged. Maka jangan heran, velg-velg hasil dari proses tempa itu berkarakter ‘kaku’ namun sangat berkarakter.

Seperti obrolan saya dengan Michael G. Burroughs (VP HRE Performance Wheels) beberapa waktu silam. “Desain apapun harus mengutamakan aspek engineering. Tidak asal bagus secara tampilan, tapi juga memperhatikan fungsi dan dampak dari desain itu.” Disini, pabrikan velg forged berkompetisi soal kapabilitas mengolah potensi keunggulan produk dengan estetika yang dimaui yang tentu harus diimbangi infrastruktur perangkat yang mumpuni. Tepatnya, seni sebuah kecanggihan rekayasa material paling banyak bicara!

ToM!

 

 

 

 

 

(foto: eurocars.wordpress.com)

PAHAMI FORGING

Apa itu forging? Sederhananya, tahu kan bikin sendok, duit koin, atau malah keris? Ya, sebuah proses metal/logam yang ditempa, bukan dicor (casting). Secara teknik, metal yang ditempa mempunyai penguatan struktur ala ‘work hardening’ yaitu melalui efek penguatan material akibat dislokasi molekul. Maksudnya, struktur urat mikronya dimampatkan agar lebih kuat. Aduh kok rumit ya? Andaikan saja deh, sapu lidi akan lebih kuat dan liat kalau dikumpulkan lalu diikat secara kuat. Kebayang?

Nah, itupun bisa dijabani dua cara; cold forming dan hot forming. Efek penempaan pada benda dingin/tidak panas berakibat rawan getas. Solusinya dengan hot forming, material ditempa dengan pemanasan (tidak sampai pada titik leleh, cukup pada titik bara) sehingga didapat efek percipitation hardening. Serat makin rapat namun dengan grain/bulir molekul yang lebih lembut, tidak tajam berserabut. Hasilnya, makin kuat tanpa beresiko getas, malah in-case bisa jadi sangat liat (ductile).

Lewat alat raksasa ini, material ditempa ribuan ton agar terjadi penguatan material secara internal

 

 

 

(Foto: http://www.jtuned.com)

                   (Foto: http://www.forgeline.com)

 

 

 

PROSES FORGING VELG

Lantas, seperti apa velg forged? Velg forged mengandalkan metal aluminium alloy yang terdiri campuran aluminium (Al), silikon (Si), besi (Fe), tembaga (Cu), mangan (Mn), magnesium (Mg), krom (Cr), seng (Zn), vanadium(V), titanium (Ti), bismut (Bi), galium (Ga), timbal (Pb) hingga zirkonium (Zr). Nah, komposisi ini dimainkan untuk grade kualitasnya, ada seri 1000, 2000, 3000, 4000, 5000, 6000, 7000 dan 8000. Salah satu yang diunggulkan untuk velg forged adalah 6061 yang asalnya dipakai buat tulang pesawat terbang!

Selanjutnya, alloy 6061 ini masuk tahap tempa untuk dibentuk velg secara kasar. Proses ini membutuhkan mesin forging raksasa dengan kekuatan tempa beragam; dari 5.000, 8.000, 10.000 bahkan 15.000 ton. Metodanya beragam, bahkan engineer pabrikan sampai mempatenkan caranya. Toh, umumnya menggunakan closed-dies (cetakan/moulding khusus) secara presisi.

Maka di pasaran kita kenal istilah forging T6, dimana penempaan dijabani pada temperatur 4000 Fahrenheit (2040C). Proses forging pun tidak berlangsung sekali. Dapat bentuk kasar, dilanjutkan pembentukan melalui proses spin forging agar didapat bentuk lebih presisi dengan kekonsentrisan yang tepat. Metoda RM8000 bikinan Rays Wheels asal Jepang, menjabani spin forging hingga 10.000 ton pembebanan yang ditengarai standar JWL+R.

Gambaran umum proses pembuatan velg forged

(sumber: http://www.aluminumprecision.com)

SENI POTONG & FINISHING

Tantangan teknologi velg forged bukan hanya di proses penempaan saja. “Kekuatan pabrikan velg forged ada di bahan, proses, engineering hingga machining,” ujar Wibowo Santosa dari Permaisuri Ban, Mahakam, Jakarta Selatan mengklasifikasi. Itu terlihat pada proses pemotongan & finishing. Pembentukan secara presisi dituntaskan lewat mesin CNC yang berkolaborasi dengan perangkat lunak 3D, kayak AutoCAD, Catia hingga SolidWorks.

Itupun harus disimulasikan sebelumnya dengan FEA (finite element analysis) untuk menggambarkan titik kekuatan desain dan balancing yang didapat, bisa pakai MSC Patran atau SMC Superforge Simulator. Memang rumit. Justru disinilah seni sebuah velg forged dilahirkan. Melalui CNC multi-axis (4, 5 bahkan 6 axis) pemotongan, kemampuannya ini dijadikan tolok ukur kualitas suatu hasil produk terhadap detail desain, bobot, konsentrisan (ketepatan sumbu), hingga kestabilan terhadap getaran.

Kelar urusan potong-memotong, velg forged dituntaskan dengan pembentukan, baik assemblingnya maupun finishing. Soal finishing? “Paling bagus high polish, kebanyakan baru dari Amrik saja. Yang lain hanya di mirror polish dan brilliant polish (sentuhan pelangi, Red),” sahut Ryan Melano dari Antelope, Bogor.

Kemampuan CNC berpengaruh ke detail dan estetika tampilan velg (Foto: http://www.cncmagazine.com)

Pada tulang teromol, proses CNC juga dijabani untuk aspek engineering; entah soal reduksi unsprung mass, keseimbangan inersia hingga kekuatan konstruksi

 

 

 

 

 

(Foto: http://www.signonsandiego.com)

Mari bijaksana dalam memilih!

Pilih nomor telepon pribadi jangan tergoda dengan bagus tidaknya nomor dulu. Apalagi tergiur oleh tarif promo dari provider jaringan penyedianya. Lihat dulu apakah sesuai dengan kebutuhan apa tidak. Kata kebutuhan ini menjadi landasan gue memilih mana jaringan mana yang dipercaya sebagai telepon andalan gue. Contohnya, dari dulu gue penggila Indosat lantaran manusiawinya tarif IM3 (0856112XXXX) yang waktu itu gue pakai dari jaman kuliah dulu. Begitu beralih ke paska bayar, sayangnya IM3 Smart tidak bisa dimigrasi. Yang ada gue beralih ke Mentari (08151126XXXX) yang langsung dimigrasi ke Matrix. Namun gue buta dengan fanatisme merek. Waktu itu dipikirnya Matrixlah yang paling sesuai dengan gue (baca: murah). Ternyata banyak uang dibazirkan karena round-up tarif Matrix masih ada yang bisa ngalahin, yaitu Xplor (round up per detik dan itu bukan tipu!).

Nah, kenapa pilih paska bayar? Ada apa dengan pra bayar? Bagi gue, beli voucher (entah dengan ATM atau via kios) cukup mengganggu aktifitas hari-hari. Jujurnya sih gue males, tiap habis pulsa harus ngisi. Tapi dari sisi efisiensi waktu & tenaga, paska bayarlah yang mendukung tabiat gue soal bayar-bayar. Bukan berarti gue niat nunggak lho… 😛 Ini hanya persoalan kepraktisan. Tidak perlu kawatir ketika pulsa habis harus bergerilya cari voucher/ATM. Belum lagi ketika -in case- gue keluar kota atau di perjalanan jauh, lewati tanggal tertagih masih bisa dipakai, asal tidak lewati tenggat waktu. Itu semua bayarnya cukup lewat ATM atau via online banking. Praktis kan?

Nah kenapa Xplor? Jujur gue capek pakai Matrix karena waktu itu round upnya per 15 detik. Padahal dari gaya kerjaan gue, telepon kurang 15 detik pun sering apalagi hanya untuk bicara; “Ya, dah dimana? Okey, gue 15 menit lagi nyampe!” Lewat 15 detik gitu? Gue yakin tidak! Paling 2-5 detik gue ngobrol plus jawaban dari lawan bicara, mentok 10 detik deh buat ngobrol ala konfirm-konfirman begitu. Jadi enggak berdosa gue pilih Xplor dengan round up per detik. Dan betul, tagihan bulanan gue -dengan gaya telepon yang sama- lebih hemat Rp 100-150 ribu! Bayangin… Lumayan kan?
Nah untuk telepon lama bagaimana? Tahun 2004 silam, gue pun apply Flexi Classy (lagi-lagi paska bayar :D). Tarif memang murah. Tapi sayang, ponsel Sanex bonus dari beli nomor perdana CDMA gue ini berkali-kali dibanting! Lho aya naon? Susah konek, dan tiap bilang “Ya, gue segera ke–tut-tut-tut…” dan itu terjadi berulang kali. Akhirnya, sukses sudah Flexi itu diwariskan ke kakak gue dan akhirnya toh hilang dan sigap langsung gue closing. Penggantinya? Gue apply Starone. Hasilnya? Worst sh*t! Lebih puarah! Gue ketipu ama iklan dan salesnya! So, what’s next? Gue pakai Esia, itupun hanya iseng aja gue beli dan kebetulan 5 nomor belakangnya sama dengan Xplor gue. Dan ternyata, Esia better dari dua nomor yang pernah gue pakai itu. Cepat nyambung, dan memang sih sering putus tapi masih gue terima. At least, tidak ada satu kalimat penyampaian tidak terputus, obrolan pun tetep lancar. Murah? Iya, buat sesama Esia atau CDMA dan PSTN. Tapi kalau buat telepon ke GSM, gue akui masih kalah dengan Fleksi. Makanya, telepon GSM ya dari Xplor gue.

Nah, soal terakhir inilah yang patut dicamkan. Mau telepon murah? Gunakan telepon satu operator dengan lawan bicara. Ini sudah gue buktiin. Telkomsel ya ketemu Telkomsel, XL ya ke XL, Indosat ya ke Indosat. Tapi enggak harus punya semua nomor kan? Tangan kita kan cuman dua :P. Tapi jujur, ini gue jabani. Jadi bukan maksud hati pamer banyak nomor. Di kantong celana, gue simpan nomor Halo, Xplor dan Esia. Sedang IM3 belum dapat ‘sangkarnya’ alias handsetnya gue belum kepikiran beli lagi, cukup buat back up saja. Nah asyik bagi gue, semua nomor itu ber 5 nomor belakang sama semua. Buat apa? Nomor telepon juga identitas dari seseorang, to? Gue enggak rela nomor initial nama gue dipakai orang lain, makanya buruan gue embat (cihuy). Enggak mahal kok, selain Esia (snif, gue tebus Rp 200 ribu!), nomor GSM gue dapat dengan fee yang murah. Malah gratis! Resepnya? Bergaol dong sama orang-orang yang bekerja di jaringan itu, hehehe..

Okey, kok malah jadi ngelantur. Belum lama gue baca artikel di http://www.korantempo.com tentang komparasi tarif. Hal ini jadi inget, kalau gue pernah mengomparasi sendiri tarif Halo, Xplor & Matrix berdasarkan rekening/tagihan yang gue dapat. Tepatnya sekitar Juli lalu, gue pernah iseng-iseng buka tagihan lama telepon gue. Waktu itu masih menyimpan amplop tagihan MATRIX, Telkomsel HALO dan Xplor di awal-awal tahun ini. Dari sini, gue enggak salah ternyata pilih Xplor sehingga malah ‘meng-Xplor-kan’ nomor ponsel keluarga gue biar makin murah. Apalagi dibikin koorporat (thanks banget dah buat PIC di kantor), selain diskon hingga 80% di off peak time, gue bisa internet unlimited tariff Rp 200 ribu lewat jalur GPRS! Pilihan internet ini makin yakin gue pilih setelah gue bersurfing via GPRS Halo 2 malam (enggak berturut-turut) sedot duit sekitar Rp 250 ribuan dan Matrix 1 malam (sekitar 5 jam-an) sedot Rp 150 ribuan. Jadi tarif Rp 200 ribu ngebanting banget kan? Tarif ini belum PPN tentunya. Belum lagi ada minimum komitmen Rp 30 ribu untuk voice/SMS (lho, kan emang gue pakai buat nomor utama…. :P). Okey, seperti apa perhitungan komparasinya? Simak hitungan iseng gue waktu 3 Juli 2007 lalu.

Nah di Koran Tempo Online, gue dapat data di bawah ini. Tentunya sudah gue edit biar elu enak baca dan ada beberapa koreksi kesalahan ketik redaksionalnya. Ayok, selamat mempelajari!

Tarif GSM

Tarif CDMA


Mmm, masih belum yakin? Gue kopiin artikel di Koran Tempo Online (http://www.korantempo.com/korantempo/2007/10/05/Suplemen/krn,20071005,80.id.html). Salut…

Jum’at, 05 Oktober 2007

Suplemen

Panasnya Perang Tarif Telepon SelulerKonsumen bisa tertipu bila tak memperhatikan “syarat dan ketentuan berlaku”.

Di sebuah ruangan yang mewah, sebuah pelelangan tak biasa sedang berlangsung panas. Para penawar bukannya berlomba-lomba menawarkan harga tertinggi, melainkan malah jorjoran menyodorkan harga terendah, dari Rp 10 sampai Rp 1. Tiba-tiba ruangan hening, seperti terhipnotis, saat seorang perempuan cantik dengan gaun mewah menyentuh lantai, mengajukan penawaran Rp 0. Dialah yang akhirnya menjadi pemenang lelang itu.

Lelang teraneh itu bukanlah lelang di Sotheby’s, rumah lelang untuk barang antik, lukisan mahal, atau perhiasan mewah. Kejadian itu cuma klip iklan sebuah operator telepon seluler yang kini ditayangkan di berbagai stasiun televisi. Sekeping iklan itu adalah potret panasnya persaingan tarif antara operator seluler di Indonesia saat ini.

Para operator, baik GSM maupun CDMA, kini berlomba-lomba menawarkan tarif paling miring. Lomba adu murah tarif menelepon itu sebenarnya sudah dimulai sejak enam tahun lalu, tapi makin sengit sejak beberapa bulan ini. Menurut data Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran, PT Excelcomindo adalah operator yang paling berani memangkas tarifnya, yakni sampai 4,46 persen, disusul Indosat 2,36 persen, dan Telkomsel 0,49 persen.

Langkah pangkas tarif ini bermula saat XL meluncurkan tarif bicara Rp 1 per detik untuk kartu “prabayar”, XL Bebas, Juli lalu. Layanan itu kemudian diperluas bagi pengguna kartu “pascabayar” XL, yakni Xplor.

Tak mau kalah, PT Indosat lalu muncul dengan tarif Rp 0 melalui program Freetalk dan bonus pesan pendek.

PT Telkomsel, dengan anak-anak perusahaan yang melahirkan Simpati, Kartu AS, dan Kartu Halo, lebih kalem. Mereka meluncurkan paket bonus bicara dan Simpati Talkmania. Dengan Simpati Talkmania, bayar Rp 25 ribu bisa mengobrol sepuasnya selama 15 jam nonstop. Layanan ini bila dirupiahkan setara dengan Rp 0,46 per detik.

Persaingan para operator CDMA juga tak kalah seru. Fren, misalnya, menawarkan program menelepon Rp 14 per menit atau Rp 0,01 per detik untuk sesama pelanggan Fren di mana saja. Telkom Flexi dan Esia pun meluncurkan paket bicara masing-masing Rp 49 per menit dan Rp 50 per menit atau Rp 0,81 per detik dan Rp 0,83 per detik.

Bingung dengan sederet tawaran itu? Tak perlu. Semua tawaran itu adalah rayuan operator seluler untuk menjaring pelanggan baru. Tawaran itu belum tentu benar-benar murah. Bila konsumen tak jeli mencermati “syarat dan ketentuan berlaku” yang ada di balik promosi itu, konsumen justru terjebak pada tarif mahal.

Tarif Rp 1 per detik dari Xplor, misalnya, berlaku untuk menelepon sesama XL dan hanya bagi pelanggan yang telah melakukan panggilan Rp 250-350 ribu pada bulan sebelumnya. Jadi hanya yang boros menelepon yang dapat layanan murah ini.

Di luar itu, tarif menelepon adalah Rp 9 per detik ke sesama XL (atau Rp 32.400 per jam) dan Rp 20 per detik ke lintas operator (Rp 600 per 30 detik). “Tarif promo itu juga baru bisa digunakan kalau sudah mendapat pesan pendek notifikasi,” ujar Santi Yeniarti, seorang pelanggan Xplor.

Menurut Myra, General Manager Corporate Communication dari Excelcomindo, tarif XL barangkali terlihat lebih mahal dibanding Mentari. “Tapi tidak perlu mendaftarkan lima nomor seperti pada Mentari Freetalk,” ujarnya. Dengan layanan ini, XL dalam dua bulan ini telah meraup sejuta pelanggan baru.

Layanan inilah yang kini dilawan Indosat dengan mengeluarkan Freetalk. Tarifnya Rp 0, tapi hanya bisa digunakan untuk menelepon ke lima nomor pelanggan Indosat yang didaftarkan. Bila pelanggan Mentari menelepon senilai Rp 5.000, dia akan gratis mendapat pulsa tambahan senilai Rp 5.000.

Harga murah Indosat ini, menurut Bimo Cahyo, salah seorang pelanggan Mentari, sayangnya sulit dinikmati. “Saya sering gagal menelepon gratis. Nadanya sibuk terus,” ujar reporter salah satu televisi swasta ini.

Menanggapi hal itu, juru bicara Indosat, Adita Irawati, mengatakan nada sibuk itu ada kemungkinan terjadi lantaran jalurnya memang sedang ramai.

Layanan tarif murah ini memang kerap kali kualitasnya tak terjaga. Hariatni Novitasari, 26 tahun, seorang pelanggan Telkom Flexi, mengatakan tarif Flexi memang relatif lebih murah, tapi panggilan telepon itu juga kerap gagal. Itu pun, kata Hariatni, hanya murah bila digunakan untuk menelepon sesama Flexi. Bila digunakan menelepon nomor dengan operator berbeda, apalagi berbeda wilayah, “Tagihannya bisa bengkak.” (baca: “Telkom Flexi dan Esia Belum Tentu Termurah”).

Vice President Public and Marketing Communication PT Telkom Eddy Kurnia mengakui banyaknya kekurangan pada pelayanan Flexi. Telkom, kata Eddy, sedang menyelesaikan migrasi frekuensi dari 1900 megahertz ke 800 MHz hingga akhir Desember 2007. Dia berharap, dengan perubahan jaringan pada awal Januari 2008, kualitas pelayanan Flexi akan membaik. “Sinyal pun lebih kuat,” katanya.

Ramainya perang tarif ini bisa menguntungkan, tapi juga kadang menjebak konsumen. Itulah yang dialami Yusi Rosita. Gadis belia pelanggan baru Fren itu tertipu bujuk rayu operator ini. Fren, menurut Yusi, tak mengabari pelanggannya bahwa tarif hemat Rp 1.400 per jam itu ternyata tak berlaku bagi nomor baru yang dibeli setelah 5 September.

Dia baru menyadari saat mencoba menelepon temannya sesama Fren di luar kota. Ternyata tarifnya Rp 10 ribu per 15 menit. “Ternyata jauh lebih mahal, padahal yang digembar-gemborkan adalah tarif murah bila menelepon ke sesama nomor Fren di mana saja,” ujar pegawai di Badan Pemeriksa Keuangan ini kesal.

Hal serupa juga terjadi pada layanan Simpati Talkmania dari Telkomsel. Layanan ini, cuma dengan bayar Rp 25 ribu bisa menelepon ke kartu Telkomsel lainnya selama 15 jam. Namun, layanan ini cuma berlaku untuk 100 ribu pendaftar pertama!

Alhasil, konsumen mesti rajin memelototi “syarat dan ketentuan berlaku” bila ingin memburu tarif murah. Bila tidak, tagihan malah bisa membengkak. KARTIKA CANDRA | BADRIAH

(published at MOTOR Magz ed. 286 September 2006)

TELAAH SUARA ARTIFISIAL

Musik yang elu nikmati via CD adalah bagian dari teknologi perekaman digital. Ya, bayangkan saja, suatu frekuensi suara diwakilkan oleh kode binery via metoda codec (compressor-decompressor, coder-decoder) tertentu yang melalui konverter digital-analog. Canggih, suara bisa natural meski hasil olah artifisial!
Nah, perekaman digital ini sekurangnya dibagi menjadi 3 macam, berformat tanpa kompresi(contoh; *.wav & *.aiff/*.iff), kompresi lossless audio (contoh; TTA/True Audio Codec & FLAC/Free Lossless Audio Codec) dan kompresi lossy audio yang berteknologi psychoacoustic (menghilangkan frekuensi audio yang tidak terdengar oleh manusia/diluar 20-20.000 Hz).
Sistem kompresi ini mempunyai 2 parameter penting untuk menjaga resolusi/kualitas suara, yaitu bit rate dan sampling rate. Bit rate berupa kecepatan olah data digital berparameter bps/kbps. Sedang sampling rate atau disebut juga sampling frekuensi berupa kecepatan olah data sampel yang berparameter Hz.
Sekurangnya terdapat 13 sistem kompresi audio yang ditelurkan di dunia ini. Salah satunya yang paling gaek adalah MP3 dan AAC. Nah, padahal masih banyak yang tak kalah mumpuni. Meskipun sebagian belum bisa diputar di head unit, berikut disarikan beberapa jenis audio kompresi digital yang layak elu simak.

MP3 (MPEG-1 Layer 3)
MP3 adalah pengembangan lanjut dari sistem Moving Picture Experts Group, khususnya turunan dari MPEG-1 setelah Layer 2 yang dikenal MP2. MP3 mampu mengkompresi file audio hingga 12 kali dengan pilihan bit rate dari 32, 40, 56, 64, 80, 96, 112, 128, 160, 192, 224, 256 hingga 320 kbps (kilo bit per second).
Makin tinggi bit rate, makin bagus kualitas suaranya, namun diikuti berkurangnya rasio kompresi yang dijabani sehingga file pun makin besar. Itu kalau dijabani formasi contant bit rate (CBR). Solusinya dengan variable bit rate (VBR) yang lebih fleksibel dimana file dibagi per segmen dengan bit rate yang berbeda-beda menyesuaikan ‘bobot’ dinamika frekuensi.

AAC (Advanced Audio Coding)
Karena MP3 punya beberapa kelemahan, hadirlah AAC yang dikembangkan dari sistem MPEG-2 Part 7 dan MPEG-4 Part 3 sebagai audio coding ber-bit rate menengah ke atas. Tak ayal AAC yang terkenal lewat jukebox iPod dan iTunes ini berfrekuensi sampel lebih luas dari 8-96 kHz (bandingkan, MP3 hanya pada rentang 16-48 kHz!). AAC juga dikenal dalam format MP4 dan M4A.
Pengembangan lanjut, AAC muncul dalam versi High Efficiency AAC (aacPlus versi 1/AAC+) dan Enhanced aacPlus (aacPlus versi 2/AAC++). AAC+ dilengkapi sistem Spectral Band Replication (SBR) yang berfungsi menjernihkan kualitas suara. Versi ini di MP3 disebut sebagai mp3Pro. Sedang AAC++ adalah AAC+ yang ditambah teknologi Parametric Stereo (PS) yang menyerupai fitur joint stereo pada MP3.

WMA (Windows Media Audio)
Kegusaran Bill Gates (bos Microsoft) adanya teknologi MP3 dijawab dengan menghadirkan audio digital WMA. Apalagi AAC sudah dikenal lekat dengan kompetitornya, Apple Computer, sehingga WMA resmi jadi bagian dari framework Windows Media sistem operasi Microsoft.
Secara sistem, WMA mirip dengan MP3, bisa CBR maupun VBR. Pertama kali keluar dalam versi WMA 7 yang disempurnakan menjadi WMA 9. Pengembangan lanjut, lahir WMA 10 Pro kualitas audio 24 bit 96 kHz. Tak ayal, Microsoft mengklaim WMA lebih bagus dibanding MP3 pada bit rate yang sama.

Ogg Vorbis
Vorbis dilansir oleh Xiph.org Foundation pada tahun 1998 sebagai audio digital jenis open source ketika MP3 diisukan bakal berlisensi (masih kan ingat ributnya sistem peer to peer Napster dengan grup musik Metallica 2000 lalu). Sistem ini dikenal dengan format Ogg yang diambil nama karakter Nanny Ogg dalam novel Disworld karya Terry Pratchett. Sayangnya, baru peranti Jukebox tertentu yang bisa memutar musik digital ini.
Ogg hanya berfrekuensi sampel 44,1 kHz (mengikuti standar kualitas CD), tapi punya pilihan bit rate yang banyak, 45-500 kbps! Bit rate yang besar ini memberikan 13 level kualitas yang bisa diatur secara VBR atau CBR. Hebatnya, Ogg dikenal berkualitas suara dahsyat sehingga Ogg ber-bit rate 160 kbps bisa sama kualitasnya dengan MP3 190 kbps. Tak ayal, file Ogg bisa lebih kecil dibanding MP3 dengan kualitas yang sama.

ATRAC3plus
Sony tak kalah unjuk teknologi soal audio digital. Tahun 1992 doi lansir file ATRAC (Advanced Transform Acoustic Coding) yang baru tahun 2002 disempurnakan menjadi ATRAC3plus. Rentang bit-rate-nya dari 48-352 kbps hasil dari encoding Quadrature Mirror Filter dipadu Modified Discrete Cosine Transform (spek dasar kompresi audio).
Hebatnya lagi, hasil pengetesan independen diperoleh bahwa kualitas ATRAC3plus (file *.atp) ber-bit rate 64 kbps sama bagusnya dengan MP3 pada 128 kbps atau AAC pada 96 kbps. Lagi-lagi kayak Ogg, file ATRAC3plus jadi lebih kecil! Sayang, hanya peranti Sony (Walkman atau head unit Xplod) yang mendukung file ini.

RealAudio
RealNetworks melansir format multimedia yang cukup strategis. Hingga kini, jalur streaming audio-video dijabani via RealMedia (*.rm), salah satu pengembangan dari format RealAudio (*.rm). Selanjutnya, ada format pengembangan lainnya kayak *.rv (file video tanpa audio), *.rmvb (RealAudio dengan VBR), *.ram (RealAudio Metadata) dan *.smil (Synchronized Multimedia Integration Language) yang terintergrasi dalam sistem website.
Audio Codec dari RealNetworks mengalami banyak evolusi sekaligus berafiliasi dengan pengembang audio lainnya. Diantaranya:
– *.lpcJ: IS-54 VSELP (RealAudio 1)
– *.28_8: G.728 LD-CELP (RealAudio 2)
– *.dnet: Dolby AC3 (RealAudio 3)
– *.sipr: Sipro Lab Telecom ACELP-NET (RealAudio 4/5)
– *.cook: G2/Cook Codec (RealAudio 6)
– *.atrc: Sony ATRAC3 (RealAudio 8)
– *.raac: MPEG-4 LC-AAC (RealAudio 9)
– *.racp: MPEG-4 HE-AAC (RealAudio 10)
– *.ralf: RealAudio Lossless Format (RealAudio 10)
RAGAM AUDIO CODEC
Selain audio codec di atas, juga beredar format audio lainnya yang perlu elu tahu, diantaranya:
– FLAC (Free Lossless Audio Codec), menemani kompresi lossy MP3 atau AAC hanya unggulnya file ini bandwidth dan ukuran bisa berkurang tanpa mengorbankan kesatuan sumber suara
– Monkey’s Audio (*.ape), format kompresi lossless dengan merekonstruksi bentuk gelombang sumber suara dengan cerdas, namun sayangnya format ini tidak bisa dijabani dengan gratis seperti MP3
– Speex, format audio codec yang sering dipakai dalam sistem VoIP (voice internet protocol) yang juga terkadang melengkapi audio codec dari Vorbis
– WavPack (*.WV), adalah teknologi hybrid, menggunakan keunggulan sistem kompresi lossless dengan file audio sekelas WAV
– Musepack (*.mpc), merupakan lossy audio codec berspek open source formatnya dalam bentuk *.mp+ atau *.mpp

ToM! (dari berbagai sumber)

TEST KOMPARASI
‘Iseng-iseng’ gue jabani komparasi 4 jenis file musik kompresi digital yaitu AAC/MP4, MP3, Ogg dan WMA. File musik diambil dari CD album tester USHER track 10 dan 14 untuk uji dengar juga IASCA track 97 (pink noise) untuk uji RTA (Real Time Analyzer).
Semua dikompresi/dikonversi melalui software Nero StartSmart versi 2.0.0.11 pada PC berprosesor Intel Pentium III 531 Mhz pada memory RAM 512 MB. Kecuali WMA, semua file ber-bit rate 2 macam (CBR dan VBR) dengan rincian.
– MP3 CBR (PowerPack Lame) 128 kbps highest quality kanal stereo 44,1 kHz
– MP3 VBR (PowerPack Lame) kualitas 5 (skala 10) kanal stereo 44,1 kHz
– MP4 CBR (Low Complexity-AAC) 128 kbps highest quality kanal stereo 44,1 kHz
– MP4 VBR (Low Complexity-AAC) 100-120 kbps streaming quality 44,1 kHz
– Ogg CBR (Vorbis Encoder) 128 kbps 44,1 kHz
– Ogg VBR (Vorbis Encoder) kualitas 4 (skala 100) 44,1 kHz
– WMA CBR 128 kbps kualitas CD 44,1 kHz 128 kBit (Nero tidak menyediakan konversi WMA VBR)
Semua file ini berkualitas hampir tidak berbeda ketika dicoba via program Winamp versi 5.24 pada laptop Toshiba Satellite M40 (prosesor Pentium 1,6 GHz memory RAM 512 MB beraudio 16 bit). Lalu dikoneksi ke instalasi berpower David Valveaudio 100Wx2 RMS dengan speaker Seas Excel Millenium 6 inci 2-way. Toh, dengan dibantu penilaian Fritzgerald Anderson Haliman (Fritz Audio) diperoleh ‘nilai’ masing-masing file berikut ini.

“Ogg lebih pas buat tweeter yang kalem, kalau MP3 dan MP4 pas pakai tweeter yang tajam,” papar Fritzgerald
Untuk hasil pengetesan versi lain secara lengkap, elu bisa klik di http://www.rjamorim.com/test/ dan http://www.xiph.org/vorbis/listen.html. Sedangkan untuk hasil pengukuran RTA via file pink noise, simak foto-foto berikut.


1. MP3 CBR frekuensi 20 kHz hilang, sedang 16 kHz jatuh pada 3-6 dB


2. Hampir sama dengan MP3 CBR, hanya saja versi VBR menunjukkan 16 kHz yang lebih kuat 6 dB dan 20 kHz muncul pada -9 dB


3. MP4 CBR menunjukkan grafik yang lebih ‘rapi’ ketimbang MP3, frekuensi tinggi rata namun jatuh pada 20 kHz pada -6 dB


4. MP4 VBR terlihat memperkuat MP4 CBR pada frekuensi 16 & 20 kHz


5. Meskipun tidak rata, grafik Ogg CBR cenderung lebih mulus dengan frekuensi 16 & 20 kHz sangat kuat (9 dB)


6. Ogg VBR berkarakter hampir sama dengan CBR-nya namun terdapat penyempurnaan pada frekuensi 12 kHz


7. Sama halnya dengan MP3, 20 kHz pada WMA hilang dengan posisi sub-bass dan midbas sangat lemah

Simak perbedaan 4 format audio digital di tabel Detail Teknis berikut


Program Nero Start Smart untuk konversi data audio digital:

Special thanks to: Fritz Audio, Jl. Pantai Indah Selatan I Blok DC No. 2, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, Telp: (021) 5881074

Source logo: http://www.netministry.com, http://www.mikewren.com, http://www.wikipedia.org, http://www.newworldmusic.com, http://www.swik.net, http://www.sanshin.co.jp, http://www.radiofreemonterey.org, http://www.forum-mp3.net, http://www.radio.goldseek.com

MENGENAL MESIN COROLLA A-SERIES

Tom drift
Diantara mesin Toyota seri A, yang paling getol dioprek adalah varian 4A (4A-GE, 4A-GZE) dan 7A (7A-GE, 7A-FE). Khususnya bagi mereka yang menggila keklasikan Corolla Levin AE86 dan DX KE70. Seperti apa karakternya, simak berikut.

FACT ABOUT 4A
–    Kapasitasnya 1.587 cc berformasi 4 silinder segaris dengan bore x stroke 81 x 77 mm.
–    Yang paling gaek adalah keluarga 4A-GE, lahir dalam 3 generasi; generasi I 4A-GE sebagai mesin blok baja cor sangat ringan dan kuat dengan head 16 katup, generasi II; kompresi ditingkatkan sehingga ditambahkan sistem pendinginan oli pada pistonnya, generasi III; head 4A-GE di-upgrade menjadi 20 katup.
–    Jenis 4A-GE 16 katup berdaya bersudut twincam 500 menyembur tenaga kisaran 112-138 dk naturally aspirated. Sayangnya, konon torsinya ‘dikorbankan’ sehingga cuma bermain di angka 131-149 Nm.  Toh mesin ini mencuat setelah sukses mempopulerkan klan AE82 FWD(Corolla FX-16), AE86 RWD (Sprinter Trueno, Levin, Corolla GT-S), AE92 FWD (Corolla GT-S) hingga Celica.
–    Baru tahun ’91 4A-GE tampil baru dengan tutup head silver dan hitam berkatup 5 tiap silinder (total 20 katup) dan dilengkapi quad throttle body dan teknologi VVT (belum VVT-i). Hasilnya, 160-165 dk dijabani cukup dengan naturally aspirated!
–    Muncul juga dalam versi supercharge jenis root pada tipe 4A-GZE sehingga tembus daya 145-165 dk dengan torsi 190 Nm
–    Karakter 4A-GE adalah kekuatannya di putaran tinggi, apalagi bila sudah berspek 20 katup. Sayangnya, apabila putaran di-upgrade untuk lebih kencang lagi, metal duduk-jalan spek bawan tergolong sangat lemah.

FACT ABOUT 7A
–    Mesin 7A berkapasitas paling besar di seri A lainnya, yaitu 1.762 cc dengan format sama, 4 silinder segaris
–    Blok 7A ber-bore x strok 81 x 85,5 mm (strokenya lebih panjang 4A-GE), sehingga torsi putaran bawah lebih baik, tenaga bawaan klimaks di angkan 115 dk (5.600 rpm) bertorsi 149-155 Nm di 2.800 rpm!
–    Ssst, 7A-FE versi Indonesia dan Rusia tergolong paling dahsyat lho! Tenaga mesin yang diset rasio kompresi 9,5:1 ini tembus 120 dk @ 6.000 rpm dengan torsi maks. 157 Nm @ 4.400 rpm!
–    Karena lay outnya sama puersis dengan 4A-GE, 7A sering dijabani ‘Frankenstein’ dimana bottom half 7A dengan cylinder head 4A-GE. Jadi jangan heran apabila ada ‘tipe underground’ berupa 7A-GZE, seperti di Trueno Apip yang hitam putih itu.
–    Karakter 7A yang kuat di putaran bawah, apalagi berkapasitas lebih besar, opsi Frankenstein dinilai paling favorit mendongkrak tenaga kehebatan cylinder head 4A-GE yang unggul di tenaga putaran tinggi. Tapi lagi-lagi, metal duduk-jalan 7A juga dikenal lemah, wajib diganti apabila tenaganya telah di-upgrade!

Sumber foto:
http://www.ae92gts.com
– old.soliton.net
http://www.club4ag.com
http://www.vhtracing.com