Ada baiknya memang fasilitas umum Ibukota berbenah. Apalagi semua dilakukan demi wilayah DKI yang teratur dan bersahaja. Tapi sayang, cerminan tujuan mulia ini mulai luntur di mata saya.

Bukan rahasia lagi kalau pembangunan koridor busway setiap saat selalu bikin polemik. Bukan soal isyu harta gono-gini mereka-mereka yang tarik keuntungan dari proyek revolusioner itu saja. Tapi ekses dari proses pengadaannya. Sudah puas warga DKI kena ‘sikut’ ruas busway sehingga terjadi ketimpangan volume kepadatan ruas meski hanya dibedakan 1 lebar separator seperti di sepanjang jalan Raya Bogor atau Warung Buncit. Mulai masuk paruh akhir 2007, DKI geger dengan kemacetan sana-sini akibat pembangunan koridor terakhir secara serentak (mulai by pass Jakarta Timur hingga jl. Panjang Jakarta Selatan-Bara). Semua pun jadi bersungut, entah umpatan langsung ke sesama pengguna jalan karena sama-sama enggak sabaran, atau komplain terbuka lewat stasiun radio atau media cetak (http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/09/tgl/25/time/161418/idnews/834216/idkanal/10).

Pertanyaan saya, apakah tidak ada mekanisme ‘project schedule’ yang sinergis dengan traffic flow DKI secara berkesinambungan? Begitu ketatkah jadwal mereka sehingga bikin proyek ini dilakukan serentak sehingga bikin semua pengguna jalan merasakan ‘sebalnya’ posisi busway sebagai solusi mass transport paling tepat?

Dari hanya membangun satu proyek, berapa kerugian energi dan finansial yang dialami Jakarta? Nah, belum lagi diperparah adanya kekacauan sistem infrastruktur jalan raya. Seperti yang saya alami di ruas jalan Jembatan Dua. Bayangkan, selama 2 jam mobil hanya bergerak 100 meter lantaran lampu lalu lintas berstatus ‘kuning-kuning’ (Jumat, 28 Sept pukul 19.30 till zzzzz). Tidak ada satupun polantas turun tangan. Yang ada orkestra klakson tak berirama saling bersahutan gara-gara saling berebut jalan. Damn! Kemanakah aparat polantas? Apakah asyik dengan menu buka puasa bareng kawan-kawan di sebuah kafe? Beruntung ada ruas jembatan di balik trotoar untuk memutar balik arah. Avanza yang saya kendarai pun terpaksa sporadis menyerobot ‘jalur pedestrian’ agar tidak larut ‘kemacetan bodoh’ yang saya prediksi akan sukses dilewati kalau ‘rela’ ditambah 2 jam menikmatinya. Bloodyhell….

Itu satu dari sekian ratus bahkan seribu kesadisan jalanan Jakarta. Lainnya saya yakin banyak anda temui di jalanan enggak jauh dari tempat tinggal atau kantor anda bekerja. Entah jalanan berlubang ‘tak terurus’ dengan diameter dan kedalaman tidak seimbang dengan radius ban motor bahkan bus. Atau malah separator jalan ‘tanpa marka’ yang siap ‘menjebak’ nyawa Anda. Ah contohnya gampang kok, fasilitas jalan ini ‘dilupakan atau mungkin disengaja’ tanpa pelapisan ‘catchy’ berwarna kuning atau bermata kucing. Enggak heran kalau terjadi mobil nyangkut separator atau lebang penyok menghajarnya. Bersyukur nyawa masih selamat. Apabila tidak? Siapa yang disalahkan? Enggak bisa dong kalau polisi menyalahkan sang pelaku! Koreksi dulu fasilitasnya! Jadi apa komentar Anda kalau melihat kondisi jalan seperti di bawah ini?

Oops