Haha, Jakarta sekarang pusing! Gue baca Kompas hari ini (9 Oktober ’07), bakal ada pembatasan penggunaan kendaraan mulai Desember 2008! Mantap? Tunggu dulu, tetep saja sangsi. Malah jangan-jangan dijadikan objek ‘pungli resmi’ aparat setempat! Itu kalau ternyata berujud pembatasan seperti 3in1 di jalan protokol. Kalau jatuhnya soal kepemilikan, ya Komdak sama Samsat makin ramai dengan ‘bisikan halus’ pemaniak/kolektor mobil.😀

            Soal mengatasi makin gilanya volume kendaraan di jalan, sebetulnya bisa intip yang ada di Jepang. Mereka ‘melepaskan’ sebagian ‘kendala’ pajak untuk mobil ‘spesial’ yaitu yang disebut kei jidosha alias Kei Car! Mobil ini berukuran kecil dengan mesin kecil pula. Akibatnya, volume kendaraan per luas ruas jalan makin seimbang dengan jumlah orang yang didalamnya.

Bayangin kalau di Jakarta, satu orang pakai ~katakanlah bawa Toyota Avanza/Daihatsu Xenia. Bila dalam ruas jalan seluas 500 m2(asumsi untuk sepanjang 100 m dengan lebar kisaran 5 m)  diisi semua Avanza/Xenia (p x l) 4,120×1,630=6,7156 m2 sehingga dijejali hingga 70 mobil. AvanzaNah, coba deh kalau ruas itu diisi Suzuki Karimun Estilo (p x l) 3,425×1,475=5,052 m2 bisa diisi 96 mobil! Karimun EstiloApalagi kalau diisi Smart Fortwo 2,499×1,514 = 3,784 m2 bisa diisi 130 mobil!Smart Fortwo

Sepintas enggak penting, tapi coba ‘ketidak-efisienan’ muncul kalau satu mobil hanya diisi 1 orang. Berapa bensin yang telah dihabiskan untuk ini? Berapa ‘kerugian lahan’ untuk ini? Berapa kerugian waktu hanya untuk menunggu satu orang ini? Berapa kerugian alam yang akibat pembuangan asap demi satu orang ini? Banyak pertanyaan lain dan jawabannya sama yaitu merugikan. Solusi untuk berpindah ke sepeda motor adalah langkah spontan akibat mahalnya bahan bakar dan juga kejenuhan terhadap kemacetan. Beralih ke bike to work tentu hanya segilintir orang yang menerimanya. Beralih ke busway, bisa jadi solusi emas apabila proyek apartement seribu tower dijabani merata ke seluruh ibukota! Sudahi budaya urban, pagi menuju Jakarta dan sore meninggalkan Jakarta. Kasihan alam Jakarta, Bung!

DEFINISI K-CAR

Biar enggak salah pakai istilah K-Car, cermati poin-poin berikut hyuk!

           Kei car diambil dari istilah kei jidosha yang berarti mobil berpelat kuning. >> Bukan maksudnya milik mikrolet di sini, lho! Itu regulasi dari Jepang, mobil berpelat kuning adalah berspek minicar dengan mesin kapasitas kecil < 1.000 cc (baca tabel 1) sehingga memenuhi persyaratan lingkungan, daya tampung jalan hingga urusan bujet parkir. Jadi lebih simpel soal bayar-bayar pajak, ketimbang mobil berpelat putih (jouyousha)  atau mobil-mobil di luar kelas K-Car.

           Jakarta macet tak berkesudahan via solusi tambah ruas jalan, busway atau perbanyak tol? >> Non sense kalau tidak buru-buru tiru regulasi Jepang ini! Kepemilikan K-Car dimudahkan atas proses ‘proof of parking’ yang dicharge atas ruang dari tempat tinggalnya (5.000-20.000 yen/tahun!) dan tentunya pajak murah (< 5.000 yen/tahun) dibanding mobil non K-Car (34.500-39.500 yen/tahun untuk mesin <2.000 cc, hingga 45.000 yen/tahun untuk 2.500 cc dan 56.000 yen/tahun untuk >3.000 cc)!

           K-Car = city car, belum tentu city car ≠ K-Car! >> K-Car istilah Jepang untuk mobil ‘ringan’ berukuran kecil sehingga bisa berspek passenger car, microvans bahkan light pick up/truck. Contohnya mulai dari Suzuki Wagon, Subaru R1, Honda Life, Daihatsu Copen hingga Mitsubishi Pajero Mini (baca tabel 2). Deduksi spek K-Car (regulasi tabel 1) yang mendekati ya city car. Jadi tidak salah juga, modifikasi city car mengadopsi K-Style. Betul?

           Mesin terbatas, belum tentu performa bablas. >> Antusiasme K-Car di Jepang pun tidak kalah dengan mobil ‘spek lebih serius’. Tidak menutup mata soal spek aplikasi turbocharger di mesin, transmisi matik CVT, penggerak 4WD atau malah mesin hybrid. Jadi enggak heran kalau di Jepang juga ada one make racenya (www.k-car.jp).

Referensi: http://www.jama-english.jp & http://www.wikipedia.org

 

REGULASI K-CAR JEPANG

            Regulasi K-Car Jepang diawali dari tahun 1949, saat itu pemerintah sana mengatur pemilahan pajak berkendara berdasarkan ukuran dan efisiensinya. Sekurangnya mengalami 7 kali revisi seperti berikut ini.

           8 Juli 1949: Ukuran maksimum (p x l x t) 2,8 x 1 x 2 m dengan mesin maksimal berkapasitas 150 cc (4 tak) dan 100 cc (2 tak).

           26 Juli 1959: Revisi di ukuran (panjang menjadi 3 m dan tinggi 1,3 m) dan kapasitas mesin (300 cc untuk 4 tak dan 200 cc untuk 2 tak).

           16 Agustus 1951: Revisi kapasitas mesin jadi 360 cc untuk 4 tak dan 240 cc untuk 2 tak.

           4 April 1955: Kapasitas mesin direvisi lagi jadi 360 cc baik 4 tak atau 2 tak.

           1 Januari 1976: Revisi di ukuran (panjang menjadi 3,2 m dan tinggi 1,4 m) dan kapasitas mesin menjadi 550 cc baik 4 tak/2 tak.

           Maret 1990: Revisi untuk panjang menjadi 3,3 m, juga kapasitas mesin jadi 660 cc dengan batasan tenaga 47 kW atau 64 dk.

           1 Oktober 1998: Panjangnya kembali direvisi menjadi 3,4 m, lainnya tidak berubah.

(Sumber: http://www.wikipedia.org & http://www.japanoid.com)

 

VARIAN K-CAR

            Berikut ini mobil-mobil berspek K-Car berdasarkan regulasi ‘Yellow Plat Cars’ dari Jepang.

           Autozam AZ-1

           Daihatsu: Copen, Esse, Fellow Max, Midget, Mira, Mira Gino, Move, Sonica, Tanto

           Honda: Beat, Life, N360, T360, That’s, Today, Z600

           Maruti Versa

           Mazda: AZ-Offroad, AZ-Wagon, Carol, Laputa, R360, Spiano

           Mitsubishi: 500, Minica, Minicab, Pajero Mini, Toppo, Town Box, eK, i

           Nissan Moco

           Smart Fortwo

           Subaru: 360 & Pleo

           Subaru: R1, R2, Rex, Stella, Vivio

           Suzuki: Alto, Alto Lapin, Cappuccino, Fronte, Jimny, LJ, MR Wagon, MightyBoy, SC100, SJ, Twin, Wagon R

Varian lain seperti microvan menurut regulasi ini masuk dalam spek K-Car, yaitu:

           Daewoo Damas

           Daihatsu Hijet atau Zebra

           Honda: Acty & Vamos

           Maruti Omni

           Subaru Sambar

           Suzuki Carry & Every

Reduksi dari K-Car, di luar Jepang (non JDM) juga bisa dikategorikan kedalamnya karena kesamaan spesifikasi meski mesin melebihi 660 cc. Yaitu: Daweoo Matiz, Hyundai Atoz, KIA Visto, Fiat Seicento hingga Seat Arosa. Pada perkembangannya, K-Car muncul pembagian ‘tidak resmi’ seperti Kei Cars, Kei Sports, Kei Van dan Kei Truck (www.japanoid.com).

MODIFIKASI K-CAR

            Bareng Ganjar (Astro, Kalibata), kami telaah bagaimana modifikasi VIP style pada mobil berspek K-Car ini. Acuannya gampang, elo bisa klik http://www.garson.co.jp atau http://www.fabulous.co.jp.

           Hindari velg bukan kodratnya! >> Maksudnya, velg K-Car maksimal berkisar 15 atau 16 inci. Lantas gaharnya dari mana? “VIP khas dengan wide and low,” bilang cowok 25 tahun ini. Itu disiasati dengan velg ukuran 15 atau 16 inci berspek lebar, bisa 6-9 inci dengan memainkan offset yang sesuai. Sayangnya stok lokal tidak tersedia, special order ke pabrikan sekelas Garson, Fabulous atau Kranze siap menyediakan! “Lucu kok, jadi seakan versi (andalan) yang diperkecil,” cuapnya.

           Cerdas memainkan setingan kaki-kaki. >> Suspensi udara sudah jelas bisa dijabani mobil sekecil K-Car. Nah, susahnya kalau mau bermain camber negatif di kaki belakang. Umumnya K-Car/city car berspek rigid axle bersuspensi trailing arm. Jadi, jangan ‘hajar’ las lalu bengkoki as rodanya. Tapi dengan adaptor khusus di braket teromol.

           Teliti memainkan wide body. >> Karakter nut squerist bodi K-Car jangan dijabani wide body ‘gambrong’ alias kelewat besar. Cukup natural via penambahan over fender atau minimalis. Lantas muat tidak? “Harus rela bobok dek dan memotong rigid axle (belakang), di Jepang begitu kok caranya,” papar Ganjar. Cara ini tepat untuk city car kayak Karimun (lama), Hyundai Atoz atau KIA Visto. Kalau tidak rela ya pastikan buat city car bernut oval, seperti Daihatsu Sirion atau Suzuki Karimun Estilo. “Pokoknya harus proporsial,” ujar singkat bungsu 3 saudara itu mewanti.

           Body kit bisa adopsi dari mobil wagon/MPV. >> Asal –lagi-lagi- harus proporsional, tidak kelewat memble atau gondrong. Direkomendasi bernut minimalis dengan nut yang sesuai bawaan mobil. Bila dijabani wide body ‘kebablasan’, imbangi dengan penambahan panel bodi di bagian pintu biar tidak tampak ‘kosong’.

           Semua serba diperkecil, termasuk ubahan kabin. >> Seperti halnya velg, aplikasi kabin VIP untuk K-Car/city car dijabani dengan memproporsikan ukurannya. “Mini barnya kayak dari Garson ada juga kok buat K-Car,” ungkap Ganjar. Dari situ, lapisan kabin model sofa jangan berlebihan. Bentuk kerut dan ukuran tonjolan motif wajik disesuaikan dengan keterbatasan ruang. Tidak dengan pelapisan busa/dakron tebal-tebal hingga ukuran jok ‘sofa’ berlebihan.

           Instalasi audio pun senada. >> Singkirkan keinginan menjejalkan monitor besar, cukup berspek indash (dasbor) dan head rest. Kosmetik audio kalau bisa ditata minimalis. “Di (luar negeri) sana sudah ada kok monitor TV kecil seukuran 3 inci-an buat di mobil,” ujar Ganjar.

(A part of this page was published at MOTOR Magz ed 316)