Mari bijaksana dalam memilih!

Pilih nomor telepon pribadi jangan tergoda dengan bagus tidaknya nomor dulu. Apalagi tergiur oleh tarif promo dari provider jaringan penyedianya. Lihat dulu apakah sesuai dengan kebutuhan apa tidak. Kata kebutuhan ini menjadi landasan gue memilih mana jaringan mana yang dipercaya sebagai telepon andalan gue. Contohnya, dari dulu gue penggila Indosat lantaran manusiawinya tarif IM3 (0856112XXXX) yang waktu itu gue pakai dari jaman kuliah dulu. Begitu beralih ke paska bayar, sayangnya IM3 Smart tidak bisa dimigrasi. Yang ada gue beralih ke Mentari (08151126XXXX) yang langsung dimigrasi ke Matrix. Namun gue buta dengan fanatisme merek. Waktu itu dipikirnya Matrixlah yang paling sesuai dengan gue (baca: murah). Ternyata banyak uang dibazirkan karena round-up tarif Matrix masih ada yang bisa ngalahin, yaitu Xplor (round up per detik dan itu bukan tipu!).

Nah, kenapa pilih paska bayar? Ada apa dengan pra bayar? Bagi gue, beli voucher (entah dengan ATM atau via kios) cukup mengganggu aktifitas hari-hari. Jujurnya sih gue males, tiap habis pulsa harus ngisi. Tapi dari sisi efisiensi waktu & tenaga, paska bayarlah yang mendukung tabiat gue soal bayar-bayar. Bukan berarti gue niat nunggak lho…😛 Ini hanya persoalan kepraktisan. Tidak perlu kawatir ketika pulsa habis harus bergerilya cari voucher/ATM. Belum lagi ketika -in case- gue keluar kota atau di perjalanan jauh, lewati tanggal tertagih masih bisa dipakai, asal tidak lewati tenggat waktu. Itu semua bayarnya cukup lewat ATM atau via online banking. Praktis kan?

Nah kenapa Xplor? Jujur gue capek pakai Matrix karena waktu itu round upnya per 15 detik. Padahal dari gaya kerjaan gue, telepon kurang 15 detik pun sering apalagi hanya untuk bicara; “Ya, dah dimana? Okey, gue 15 menit lagi nyampe!” Lewat 15 detik gitu? Gue yakin tidak! Paling 2-5 detik gue ngobrol plus jawaban dari lawan bicara, mentok 10 detik deh buat ngobrol ala konfirm-konfirman begitu. Jadi enggak berdosa gue pilih Xplor dengan round up per detik. Dan betul, tagihan bulanan gue -dengan gaya telepon yang sama- lebih hemat Rp 100-150 ribu! Bayangin… Lumayan kan?
Nah untuk telepon lama bagaimana? Tahun 2004 silam, gue pun apply Flexi Classy (lagi-lagi paska bayar :D). Tarif memang murah. Tapi sayang, ponsel Sanex bonus dari beli nomor perdana CDMA gue ini berkali-kali dibanting! Lho aya naon? Susah konek, dan tiap bilang “Ya, gue segera ke–tut-tut-tut…” dan itu terjadi berulang kali. Akhirnya, sukses sudah Flexi itu diwariskan ke kakak gue dan akhirnya toh hilang dan sigap langsung gue closing. Penggantinya? Gue apply Starone. Hasilnya? Worst sh*t! Lebih puarah! Gue ketipu ama iklan dan salesnya! So, what’s next? Gue pakai Esia, itupun hanya iseng aja gue beli dan kebetulan 5 nomor belakangnya sama dengan Xplor gue. Dan ternyata, Esia better dari dua nomor yang pernah gue pakai itu. Cepat nyambung, dan memang sih sering putus tapi masih gue terima. At least, tidak ada satu kalimat penyampaian tidak terputus, obrolan pun tetep lancar. Murah? Iya, buat sesama Esia atau CDMA dan PSTN. Tapi kalau buat telepon ke GSM, gue akui masih kalah dengan Fleksi. Makanya, telepon GSM ya dari Xplor gue.

Nah, soal terakhir inilah yang patut dicamkan. Mau telepon murah? Gunakan telepon satu operator dengan lawan bicara. Ini sudah gue buktiin. Telkomsel ya ketemu Telkomsel, XL ya ke XL, Indosat ya ke Indosat. Tapi enggak harus punya semua nomor kan? Tangan kita kan cuman dua😛. Tapi jujur, ini gue jabani. Jadi bukan maksud hati pamer banyak nomor. Di kantong celana, gue simpan nomor Halo, Xplor dan Esia. Sedang IM3 belum dapat ‘sangkarnya’ alias handsetnya gue belum kepikiran beli lagi, cukup buat back up saja. Nah asyik bagi gue, semua nomor itu ber 5 nomor belakang sama semua. Buat apa? Nomor telepon juga identitas dari seseorang, to? Gue enggak rela nomor initial nama gue dipakai orang lain, makanya buruan gue embat (cihuy). Enggak mahal kok, selain Esia (snif, gue tebus Rp 200 ribu!), nomor GSM gue dapat dengan fee yang murah. Malah gratis! Resepnya? Bergaol dong sama orang-orang yang bekerja di jaringan itu, hehehe..

Okey, kok malah jadi ngelantur. Belum lama gue baca artikel di http://www.korantempo.com tentang komparasi tarif. Hal ini jadi inget, kalau gue pernah mengomparasi sendiri tarif Halo, Xplor & Matrix berdasarkan rekening/tagihan yang gue dapat. Tepatnya sekitar Juli lalu, gue pernah iseng-iseng buka tagihan lama telepon gue. Waktu itu masih menyimpan amplop tagihan MATRIX, Telkomsel HALO dan Xplor di awal-awal tahun ini. Dari sini, gue enggak salah ternyata pilih Xplor sehingga malah ‘meng-Xplor-kan’ nomor ponsel keluarga gue biar makin murah. Apalagi dibikin koorporat (thanks banget dah buat PIC di kantor), selain diskon hingga 80% di off peak time, gue bisa internet unlimited tariff Rp 200 ribu lewat jalur GPRS! Pilihan internet ini makin yakin gue pilih setelah gue bersurfing via GPRS Halo 2 malam (enggak berturut-turut) sedot duit sekitar Rp 250 ribuan dan Matrix 1 malam (sekitar 5 jam-an) sedot Rp 150 ribuan. Jadi tarif Rp 200 ribu ngebanting banget kan? Tarif ini belum PPN tentunya. Belum lagi ada minimum komitmen Rp 30 ribu untuk voice/SMS (lho, kan emang gue pakai buat nomor utama…. :P). Okey, seperti apa perhitungan komparasinya? Simak hitungan iseng gue waktu 3 Juli 2007 lalu.

Nah di Koran Tempo Online, gue dapat data di bawah ini. Tentunya sudah gue edit biar elu enak baca dan ada beberapa koreksi kesalahan ketik redaksionalnya. Ayok, selamat mempelajari!

Tarif GSM

Tarif CDMA


Mmm, masih belum yakin? Gue kopiin artikel di Koran Tempo Online (http://www.korantempo.com/korantempo/2007/10/05/Suplemen/krn,20071005,80.id.html). Salut…

Jum’at, 05 Oktober 2007

Suplemen

Panasnya Perang Tarif Telepon SelulerKonsumen bisa tertipu bila tak memperhatikan “syarat dan ketentuan berlaku”.

Di sebuah ruangan yang mewah, sebuah pelelangan tak biasa sedang berlangsung panas. Para penawar bukannya berlomba-lomba menawarkan harga tertinggi, melainkan malah jorjoran menyodorkan harga terendah, dari Rp 10 sampai Rp 1. Tiba-tiba ruangan hening, seperti terhipnotis, saat seorang perempuan cantik dengan gaun mewah menyentuh lantai, mengajukan penawaran Rp 0. Dialah yang akhirnya menjadi pemenang lelang itu.

Lelang teraneh itu bukanlah lelang di Sotheby’s, rumah lelang untuk barang antik, lukisan mahal, atau perhiasan mewah. Kejadian itu cuma klip iklan sebuah operator telepon seluler yang kini ditayangkan di berbagai stasiun televisi. Sekeping iklan itu adalah potret panasnya persaingan tarif antara operator seluler di Indonesia saat ini.

Para operator, baik GSM maupun CDMA, kini berlomba-lomba menawarkan tarif paling miring. Lomba adu murah tarif menelepon itu sebenarnya sudah dimulai sejak enam tahun lalu, tapi makin sengit sejak beberapa bulan ini. Menurut data Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran, PT Excelcomindo adalah operator yang paling berani memangkas tarifnya, yakni sampai 4,46 persen, disusul Indosat 2,36 persen, dan Telkomsel 0,49 persen.

Langkah pangkas tarif ini bermula saat XL meluncurkan tarif bicara Rp 1 per detik untuk kartu “prabayar”, XL Bebas, Juli lalu. Layanan itu kemudian diperluas bagi pengguna kartu “pascabayar” XL, yakni Xplor.

Tak mau kalah, PT Indosat lalu muncul dengan tarif Rp 0 melalui program Freetalk dan bonus pesan pendek.

PT Telkomsel, dengan anak-anak perusahaan yang melahirkan Simpati, Kartu AS, dan Kartu Halo, lebih kalem. Mereka meluncurkan paket bonus bicara dan Simpati Talkmania. Dengan Simpati Talkmania, bayar Rp 25 ribu bisa mengobrol sepuasnya selama 15 jam nonstop. Layanan ini bila dirupiahkan setara dengan Rp 0,46 per detik.

Persaingan para operator CDMA juga tak kalah seru. Fren, misalnya, menawarkan program menelepon Rp 14 per menit atau Rp 0,01 per detik untuk sesama pelanggan Fren di mana saja. Telkom Flexi dan Esia pun meluncurkan paket bicara masing-masing Rp 49 per menit dan Rp 50 per menit atau Rp 0,81 per detik dan Rp 0,83 per detik.

Bingung dengan sederet tawaran itu? Tak perlu. Semua tawaran itu adalah rayuan operator seluler untuk menjaring pelanggan baru. Tawaran itu belum tentu benar-benar murah. Bila konsumen tak jeli mencermati “syarat dan ketentuan berlaku” yang ada di balik promosi itu, konsumen justru terjebak pada tarif mahal.

Tarif Rp 1 per detik dari Xplor, misalnya, berlaku untuk menelepon sesama XL dan hanya bagi pelanggan yang telah melakukan panggilan Rp 250-350 ribu pada bulan sebelumnya. Jadi hanya yang boros menelepon yang dapat layanan murah ini.

Di luar itu, tarif menelepon adalah Rp 9 per detik ke sesama XL (atau Rp 32.400 per jam) dan Rp 20 per detik ke lintas operator (Rp 600 per 30 detik). “Tarif promo itu juga baru bisa digunakan kalau sudah mendapat pesan pendek notifikasi,” ujar Santi Yeniarti, seorang pelanggan Xplor.

Menurut Myra, General Manager Corporate Communication dari Excelcomindo, tarif XL barangkali terlihat lebih mahal dibanding Mentari. “Tapi tidak perlu mendaftarkan lima nomor seperti pada Mentari Freetalk,” ujarnya. Dengan layanan ini, XL dalam dua bulan ini telah meraup sejuta pelanggan baru.

Layanan inilah yang kini dilawan Indosat dengan mengeluarkan Freetalk. Tarifnya Rp 0, tapi hanya bisa digunakan untuk menelepon ke lima nomor pelanggan Indosat yang didaftarkan. Bila pelanggan Mentari menelepon senilai Rp 5.000, dia akan gratis mendapat pulsa tambahan senilai Rp 5.000.

Harga murah Indosat ini, menurut Bimo Cahyo, salah seorang pelanggan Mentari, sayangnya sulit dinikmati. “Saya sering gagal menelepon gratis. Nadanya sibuk terus,” ujar reporter salah satu televisi swasta ini.

Menanggapi hal itu, juru bicara Indosat, Adita Irawati, mengatakan nada sibuk itu ada kemungkinan terjadi lantaran jalurnya memang sedang ramai.

Layanan tarif murah ini memang kerap kali kualitasnya tak terjaga. Hariatni Novitasari, 26 tahun, seorang pelanggan Telkom Flexi, mengatakan tarif Flexi memang relatif lebih murah, tapi panggilan telepon itu juga kerap gagal. Itu pun, kata Hariatni, hanya murah bila digunakan untuk menelepon sesama Flexi. Bila digunakan menelepon nomor dengan operator berbeda, apalagi berbeda wilayah, “Tagihannya bisa bengkak.” (baca: “Telkom Flexi dan Esia Belum Tentu Termurah”).

Vice President Public and Marketing Communication PT Telkom Eddy Kurnia mengakui banyaknya kekurangan pada pelayanan Flexi. Telkom, kata Eddy, sedang menyelesaikan migrasi frekuensi dari 1900 megahertz ke 800 MHz hingga akhir Desember 2007. Dia berharap, dengan perubahan jaringan pada awal Januari 2008, kualitas pelayanan Flexi akan membaik. “Sinyal pun lebih kuat,” katanya.

Ramainya perang tarif ini bisa menguntungkan, tapi juga kadang menjebak konsumen. Itulah yang dialami Yusi Rosita. Gadis belia pelanggan baru Fren itu tertipu bujuk rayu operator ini. Fren, menurut Yusi, tak mengabari pelanggannya bahwa tarif hemat Rp 1.400 per jam itu ternyata tak berlaku bagi nomor baru yang dibeli setelah 5 September.

Dia baru menyadari saat mencoba menelepon temannya sesama Fren di luar kota. Ternyata tarifnya Rp 10 ribu per 15 menit. “Ternyata jauh lebih mahal, padahal yang digembar-gemborkan adalah tarif murah bila menelepon ke sesama nomor Fren di mana saja,” ujar pegawai di Badan Pemeriksa Keuangan ini kesal.

Hal serupa juga terjadi pada layanan Simpati Talkmania dari Telkomsel. Layanan ini, cuma dengan bayar Rp 25 ribu bisa menelepon ke kartu Telkomsel lainnya selama 15 jam. Namun, layanan ini cuma berlaku untuk 100 ribu pendaftar pertama!

Alhasil, konsumen mesti rajin memelototi “syarat dan ketentuan berlaku” bila ingin memburu tarif murah. Bila tidak, tagihan malah bisa membengkak. KARTIKA CANDRA | BADRIAH