PILIH TUNE-IN APA PUSHING??

Wah wah, banyak pertanyaan pula datang ke gue soal pilih PDA bagusan yang mana? Waduh, gue enggak mau berlagak sok tahu, karena memang gue juga sama; masih awam soal teknologi PDA. Tapi enggak apa-apa, gue sekarang paparkan berdasarkan pengalaman saja. Enggak salah kan? Apalagi banyak sekali produk PDA (personal digital asistant) yang bisa aja elo gebet. Tapi seperti apa? Nah pertanyaan ini enggak gampang dijawab dan enggak semudah disarankan secara sepihak. Sama seperti pilih komputer, the need based itu wajib. Tapi seperti apa?

 

Foto oleh Artha & model Alyne

Okey Sob, jawabnya enggak segampang elu pilih ponsel. Ya, ponsel sudah beragam varian, tinggal pilih berdasarkan bujet. Enggak usah pusing lagi, pilih ponsel seminimalnya ada Bluetooth, GPRS kelas 10, sms > 160 karakter, bisa 3G pula. Semua bermain di rentang harga yang cukup lebar, mulai Rp 1 jutaan hingga 10 jutaaan. Jadi, soal ponsel enaknya dibahas nanti saja. Atau enggak perlu dibahas?😀 Nah beda banget kalau sudah berpindah ke PDA. PDA apa yang pantas kamu miliki? Intinya elo harus tune-in alias benar-benar pas dengan ‘gaya pemakaian’ terhadap kebutuhan PDA. Sangat disayangkan apabila pilihan jatuhnya bikin pusiiiing. Mubazir kan? Begini deh gue paparin.

Choice 1: PDA phone or not?

Bagi gue, PDA phone is must. Tapi belum tentu kan buat kalian. Kalau akhirnya elo hanya butuhin sebagai trully asistent, dalam artian dipakai untuk mencatat, merekam, juke box, internet hot spot, data storage, hingga guidance via GPS (kalau memang dilengkapi) dan semua berfungsi sebagai PC replacement for mobile, yup elo enggak salah pilih cukup PDA, bukan PDA Phone. Kapabilitas PDA non telepon biasanya lebih bagus dan –yang jelas- lebih bandel karena secara sistem tidak terganggu distorsi gelombang GSM sehingga konsumsi power dan kecepatan sistem terdongkrak efisien.

Nah itu mutlak bisa benar kalau kita tengok tren PDA era-era before 2007. Sekarang, posisi PDA malah jadi makin bergeser ke ‘smart multimedia storage’. Sudah enggak ada bedanya lagi, antara PDA HP rx5700 dengan Garmin Nüvi680, Archos 704 WiFi, Creative VISION W, bahkan iPod Touch! Tipis, Jack! Kalau sering buat tour guidance, ya pilih Garmin Nüvi. Buat nge-net via WiFi, ya Archos 704 yang harddisknya sampai 80 gigs! Kalau buat simpen foto, ya pilih Creative Vision W karena ada slot memory CF-nya! Atau totally simpen-simpen lagu, ya iPod Touch! Semua fungsinya sama kan? Assist elo ketika mobile? Hebatnya, semua alat itu bisa kok buat catat-mencatat, PDF viewer (kecuali Garmin), voice recorder hingga reminder via fitur agenda.

 

Sumber foto: farm1.static.flickr.com

Makanya, enggak beralasan bagi gue (ingat ya menurut gue) pilih PDA ya wajib sudah terkoneksi jaringan telepon, entah itu GSM atau CDMA. Fungsi itu baru benar-benar assist elo ketika mobile, khususnya komunikasi via telepon sering kali jadi tulang punggung kerjaan. Mulai dari simpan phonebook beribu-ribu, SMS beribu-ribu, call history beribu-ribu hingga ‘full mobile internet’ via GPRS, EDGE, UMTS or HSDPA. So, you go with me for choosing PDA Phone?🙂

Choice 2: Smartphone or Pocket PC?

Nah, ini yang penting. Pilih smartphone apa pocket PC? Bagi istilah awam; ko-produknya smartphone adalah PDA. Khususnya yang membedakan antara PDA bersistem operasi (OS) Windows dengan yang tidak (Palm OS, Blackberry, Symbian bahkan Android). Ah itu sebetulnya istilah doang, apalagi istilah smartphone nyata-nyata diperkenalkan oleh Microsoft sebagai pembeda dengan Pocket PC dimana smartphone tanpa sistem input touch screen dan fitur office-nya hanya berfungsi sebagai viewer. Untuk itu, gue lebih enak memilah dua istilah ini dengan irisan sebagai berikut yang memang berdasarkan sistem operasi yang dipakai.

Smartphone –> PDA phone ber-OS non Windows Mobile (Symbian, Palm, Blackberry & [soon] Android) dan atau yang ber-OS Windows Mobile versi Smartphone (ciri khasnya: no touch screen dan Office viewer)

 

Sumber foto: http://www.gadgetmania.ro

Pocket PC –> PDA phone ber-OS Windows Mobile/WM (mulai WM6, WM5, WM2003, dan seterusnya).

 

Sumber foto: http://www.mobilissimo.ro


Kenapa pemilahan ini berdasarkan pakai tidaknya OS WM? Jawabnya simpel; WM itu ribet! Penyakitnya seperti OS PC (entah Windows 98, 2000, XP bahkan Vista) yaitu suka crash, hang dan rawan virus. Belum lagi power consumption WM tergolong parah dibanding smartphone (baca: PDA phone non Windows based). Makanya tidak heran, smartphone dijadikan pelarian. Dan enggak heran pula, Steve Ballmer (CEO Microsoft) suangat panik dengan kehadiran Android dan makin panik pula dengan kehadiran GPhone. Ya, gue enggak sabar berpindah ke telepon ber-OS ‘saudara’ dari Symbian yang bersifat open source ini!

Tapi kenapa gue tetap pakai Pocket PC? Jawabnya simpel, gue orang yang ‘dikorbankan’ menjadi PC Slave. Tiap detik tiap waktu, OS Windowslah jadi andalan. Jadi mau tidak mau, konektivitas data yang tepat untuk berfungsi sebagai PC replacement ya pilih Pocket PC. Sinkronisasi reminder, address book, notes, MS Word, Excel hingga back up data nyuambung banget antara Pocket PC dengan OS Windows PC. Lantas bagaimana dengan Smartphone Windows? Kepraktisan touch screen gue akui tidak bisa disingkirkan. Belum lagi, fungsi input di Office seringkali berpindah ke PDA! So, Pocket PC adalah yang pas bagi gue, khususnya buat kerjaan yang kaitannya dengan tulis-menulis, bikin janji ini-itu, rekam ini itu, foto ini-itu, etc etc.

Jadi yang pas buat kamu? Ayo bikin listing berikut ini:

Enggak mau sering charge batere (maksimalnya sehari sekali), enggak mau ribet soal power supply (additional external batere alias cadangan, tiap saat siap charger termasuk mobile charger spek cigarette lighter plug), enggak mau ukuran besar-besar, emoh install-install program, anti soal nge-hang/crash/virus, cuman buat catat-catat tanpa ada kaitan ke laptop/desktop PC, cuman buat Office viewer (jarang kepaksa kerja via PDA), e-mailing tanpa ada sangkut pautnya dengan Outlook PC di laptop/desktop, dan sebal dengan all Microsoft things => Pilih Smartphone

Mau rajin-rajin nge-charge batere (dan setiap saat bawa mobile charger atau syukur batere cadangan), benar-benar PC Slave, benar-benar butuh sinkronisasi data ‘all Microsoft things’ (Office termasuk Outlook, reminder, address book), sering terpaksa butuh Office disaat jauh dari laptop/desktop PC, suka install-install program dan game (apalagi tergiur oleh banyaknya ragam jenisnya), dan tentunya you don’t hate too much Microsoft things => Pilih Pocket PC.

Kalau dikerucutkan, mana yang dipilih sistem operasi (OS) yang pas buat elu?

WM Pocket PC => Benar-benar Windows banget, bedanya dibatasi oleh sebuah kemampuan prosesor dan memory yang pelit.

WM Smartphone => ‘A Symbian wannabe’ from Microsoft, cuman input hanya lewat keypad (syukur ada bertombol QWERTY, tanpa touchscreen) dan tentunya Office Viewer doang. Mungkin ini dijabani biar lebih irit batere…😛

Symbian => Soal kepraktisan, OS bertulang bahasa Java script ini jagonya. Sayangnya, fitur Office-nya masih kalah dengan produknya Windows Mobile. Kalau enggak butuh fitur Office, saran PDA Symbian cukup aworthed dimiliki (contohnya Nokia E61i atau E90 atau Sony Ericsson P1i atau malah M600) .

Palm => Kalau versi desktop atau laptop, anti Microsoft dijabani dengan Mac-maniac. Nah kalau PDA, kalau tidak WM ya Palm😛 Bisa main-main install cuman populasi source program additionalnya enggak sebanyak buat WM. Hebatnya, Palm jauh ramah batere ketimbang WM! Sayang, Treo yang notabene flagshipnya untuk Palm OS ngelacur di Treo750 karena pakai WM5!

Blackberry => Another powerfull OS, apalagi sistemnya terkoneksi server push mail mumpuni. Terus terang, gue masih gelap soal ini. Denger-denger sih, antara Xplor, Indosat dan Telkomsel berkoar-koar dalam kecepatan aksesnya via rujukan server yang diikuti. Entah lewat Verizon, T-Mobile, Cingular, Sprint, Nextel, AT&T atau apalah namanya. So, CMIIW ya.. hehehe

Android => Haha, gue tunggu-tunggu nih… Lewat konsep GPhone ketika telepon enggak perlu pencet nomor tapi id google account lo aja! Sifatnya kayak Linux, open source banget dan basiknya kalau tidak salah pakai Java Script juga, seperti Symbian. Lagi-lagi, CMIIW yaa…. hehehe

Choice 3: QWERTY Pad

Input data PDA lewat tombol QWERTY adalah penting jadi pertimbangan. Ini disesuaikan dengan ‘kebiasaan’ elo untuk tune-in dalam pemakaiannya. Ada dua jenis orang yang mengmahfumi soal keberadaan tombol QWERTY, yaitu pihak pertama yang suka dengan one hand operation alias cukuplah satu tangan yang bekerja dan pihak kedua yang rela dengan two hand operation alias mau repot dengan dua tangan untuk operasiin PDA! Kira-kira gambaran tipikal dua pihak ini adalah sebagai berikut:

 

Sumber foto: http://www.ce.cn

One hand operation: Totally mobile, tidak rela tas tenteng ditaruh di jalan lalu utak-atik PDA, tidak rela tangan satunya lepas dari rokok/buku/remasan tangan pacar😛, tidak punya sopir kalau naik mobil, ya mungkin juga jarang naik taksi, acara makan enggak rela diganggu dengan SMS/e-mail masuk, sebal pakai stylus (belum lagi ribet kalau hilang), dan mungkin punya telepon lain dan dipegang di tangan lainnya.

Sumber foto: hpc.ru

 

 

 

 

 

Two hand operation: Wait, gue susah gambarin tipikal pihak ini. Pakai mobil pasti bersopir juga belum tentu, rela taruh tas atau sesuatu yang dipegang di tangan lainnya hanya untuk utak-atik ya belum tentu, atau jangan-jangan ‘show off’ pakai gadget mumpuni?😛 Asli, gue salah satu pembenci PDA jenis ini, seberapapun canggihnya, seberapapun mahalnya. Ini dia yang bikin gue heran, kenapa Nokia Komunikator laku keras di Indonesia! Kenapa enggak sekalian beli Flybook yang sudah insert GSM simcard? Hehehe…. Okey lah, gue enggak nyalahin juga dengan PDA seperti ini. Buktinya Dopod 838 Pro juga laku, Nokia 9300 ya kayak kacang goreng, iPaQ rw6828 cukup lucu, O2 XDA Zinc mayan bergengsi. Wah Dopod U1000? Hehehe, enggak deh….

 

Jadi mana yang dipilih?

  1. Only QWERTY touch screen

PDA ini umumnya lebih murah dibanding jenis PDA yang ditambah additional pad (baik QWERTY pad maupun key phone pad). Ragam produknya lebih banyak dan rentang harganya juga lebih luas sehingga elu banyak pilihan. Ingat, pilihan nomor 1 ini harus diikuti kerelaan elu dengan keahlian bermain stylus, mau pilih cukup QWERTY atau justru pilih fitur input block recognizer, decuma onspot, letter recognizer atau transcriber. Mau pakai cara one hand operation? Piara deh kuku jempol buat pengganti stylus, hehehe! Itu enggak perlu semisal saja sistem inputnya sudah mengikuti Mac OS di iPhone; tidak perlu stylus, tidak perlu benda keras, cukup sentuhan jari saja dan touch screennya dijabani dengan cara unik seperti kalau elu pakai laptop Mac!

 

Sumber foto: blogs.zdnet.com

  1. Only QWERTY touch screen plus key pad

Bersyukur, sekarang kelemahan PDA disiasati dengan tombol utama bergaya key pad seperti ponsel. Gue enggak hafal produknya mana, ciri khasnya bisa dalam bentuk ‘main pad’ seperti ponsel atau additional pad dengan desain hidden slidding.

 

Sumber foto: http://www.tecnogadgets.com

  1. QWERTY pad sebagai prime button

Ini dia favorit gue, tombol QWERTY dijadikan main pad. Contohnya makin kesini makin banyak, mulai varian Treo, HP hw6500 series (gue gebet hw6515 hehe) atau 6900 series (ya hw6965 itu lho..) atau malah terbaru 910 yang sayangnya belum masuk, Sony Ericsson P1i dan M600, Nokia E61i, Samsung i780, Motorola MotoQ series, varian Blackberry dan lain-lain. Lantas bagaimana cara memilihnya kalau didasarkan opsi nomor 3 ini? Cari tombol yang menurut elu enak dipencet, tombol enggak kegedean atau kekecilan. Terus, pilih mana yang tombol khusus keypad telepon (biasanya dibedain warnanya) yang pas buat elu, di bagian kiri atau kanan? Terus, pilih mana yang enak dengan jangkauan jempol kamu yang paling pas kalau cara one hand operation dipilih. Terus… Wah intinya, PDA yang paling praktis menurut gue yang yang opsi ini! Titik.

Sumber foto: http://www.tech2.com

  1. QWERTY pad sebagai additional button

Ada banyak cara menambah kepraktisan tombol QWERTY dengan cara memposisikannya sebagai additional button. Seperti O2 XDA Zinc, Dopod UC eh U1000 bahkan Nokia Komunikatro (entah 9300, 9500 bahkan E90). Wah, bagi gue, tetap saja enggak praktis. Harus buka lid atau slide padnya, baru ditekan-tekan dengan dua tangan! Duh… duh… duh….

 

Sumber foto: http://www.navigadget.com

Choice 4: Additional Features

Kelengkapan fitur PDA linier dengan harga yang harus kamu tebus. Tapi pintar-pintarlah mengkomparasi harga itu dengan ukuran prosesor yang dipakai, memory internal (baik ROM maupun RAM), slot memory card, koneksi Bluetooth, network yang dimiliki, transfer data wireless (entah WiFi atau broadband sekelas UMTS atau HSDPA), ukuran layar (woi, hw6515 berukuran 240×240 piksel, susah banget cari game yang pas!), ukuran batere (berikut klaim durasi pemakaian), beratnya, ukurannya, dan lain-lain. Intinya, elu harus jeli mencermati spek yang dimiliki. Kalau terpaksa beli seken demi fitur yang mumpuni, kenapa tidak? Kalau hw6515 Rp 2-3 jutaan (seken) masih mulus dan bisa GPS (global positioning system) pula, kenapa tidak dibeli?😛

Choice 5: (Lagi-lagi) Testimonial

Sama seperti pilih laptop, pelajari testimonial di beberapa situs dan forum-forum online. Tanyakan, dimana kelemahan produk yang bakal elu incar. Syukur, elu dapat data atau info soal komparasi produk-produk tersebut. Ini biar memperkaya info lo soal PDA yang pengin dipilih. Cukup dulu, mungkin akan gue tambah-tambahin infonya nanti. Maaf, gue sudah ngantuk berat. Busyet, dah jam 12 malam aja nih…Untuk referensi lain, elu bisa klik www.smartdevicecentral.com, www.tekscientia.com, www.pctoday.com.
CMIIW & Daaaaaah……